![]() |
| Gunung Slamet (www.xenografi.blogspot.com) |
KabareBralink – Kesadaran pendaki Gunung Slamet dalam membuang sampah masih terbilang rendah. Sepanjang
jalur pendakian melalui pos Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, masih
ditemukan sampah seperti berupa bungkus permen, mie instant dan botol bekas minuman air
mineral.
Kepala
Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora)
Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si
mengungkapkan, peringatan kepada para pendaki untuk membawa turun kembali
sampah yang dihasilkan selama pendakian, tidak selamanya dipatuhi. Biasanya
para pendaki pemula, bukan dari kelompok pecinta alam.
“Mereka mungkin
masih beranggapan, jika hanya meninggalkan sedikit sampah tidak akan
berpengaruh di pegunungan. Namun, jika banyak pendaki yang beranggapan
demikian, tentunya sepanjang jalur pendakian akan dipenuhi sampah. Apalagi
kebanyakan berupa sampah an-organik seperti plastik yang sulit terurai,” kata
Prayitno disela-sela melakukan pemantauan pendakian di Posko Bambangan, Minggu
(29/12). Pos Pendakian Bambangan menjadi bagian dari pariwisata minat khusus
yang dikelola Pemkab Purbalingga bersama Tim SAR desa setempat.
Dikatakan
Prayitno, beberapa kelompok pecinta alam telah melakukan gerakan bersih gunung.
Sebelumnya juga pernah dari anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang
melakukan kegiatan itu. Pekan lalu, Forum Silahrutahmi Relawan Peduli
Lingkungan yang bermarkas di Purwokerto melakukan gerakan bersih gunung. “Dalam
kegiatan itu setidaknya dibawa turun 57 kantong trashbag berisi sampah. Setiap kantong rata-rata berisi 15 – 20
kilogram sampah. Sampah itu dibawa dari sepanjang jalur pendakian,” ujar
Prayitno.
Menurut
Prayitno, sampah yang dibawa para relawan peduli lingkungan kebanyakan berasal
dari pos pendakian I, Pos V dan Pos VII.
Relawan tersebut juga terpaksa membongkar tempat sampah sederhana dari
bambu yang berada di pos I. Keberadaan tempat sampah di jalur pendakian sama
saja mengijinkan pendaki membuang sampah disitu, padahal yang diharapkan Gunung
Slamet harus bersih dari sampah. Sampah itu juga tidak ditimbun, karena justru
bisa mencemari tanah.
“Sampah yang
terkumpul di pos Bambangan memang harus dibawa turun ke Tempat Pembuangan Akhir
(TPA). Kami akui, di pos Bambangan belum ada tempat sampah permanen dalam
ukuran besar untuk menampung sampah yang dibawa pendaki. Biasanya setelah
terkumpul banyak, baru dibuang ke TPA dengan menggunakan kendaraan,” ujarnya.
Prayitno mengatakan,
banyaknya sampah di jalur pendakian Bambangan karena jalur ini merupakan jalur
favorit bagi pendaki pemula maupun pendaki ulung. Semakin ramainya wisata minat
khusus pendakian gunung Slamet melalui jalur ini tentunya berdampak pada
meningkatkan volume sampah yang dihasilkan.
“Aktifitas vandalisme atau perusakan lingkungan
dengan membuang sampah tentunya menjadi penyumbang kerusakan lingkungan di
Gunung Slamet. Memang tidak semua pendaki membuang sampah, dan mereka memilih menyimpan
sampah di ransel untuk dibawa turun. Namun, komposisi pendaki yang peduli
lingkungan, dibanding pendaki yang tidak peduli, atau belum peduli jumlahnya,
jumlahnya jauh lebih sedikit,” katanya.
Dikatakan
Prayitno, jalur Bambangan menjadi favorit karena merupakan jalur pendakian
dengan medan yang relatif mudah dibanding jalur pendakian Baturaden, jalur Guci
Tegal maupun jalur pendakian melalui wilayah Pemalang. Jalur Bambangan akan
semakin ramai pada waktu tertentu seperti malam pergantian tahun, saat HUT RI
pada Agustus atau musim liburan kuliah atau sekolah. “Pendaki pada malam
pergantian tahun baru, seperti tahun lalu, bias mencapai 1.000 pendaki. Jika
cuaca bersahabat dan tidak turun hujan lebat atau badai, pada pergantian tahun
2014 pekan depan diperkirakan juga ramai pendaki,” kata Prayitno.
Prayitno
menambahkan, Relawan Peduli Lingkungan yang beranggotakan sejumlah komunitas
pecinta alam dan pendaki dari Purwokerto, Cilacap, Purbalingga, Banyumas dan
sejumlah wilayah lain, sudah menginformasikan akan banyak pendaki yang akan
naik ke puncak Gunung Slamet (3.428 meter diatas permukaan laut), pada malam
tahun baru 2014.
“Bahkan ada
dua pendaki dari Kanada yang akan dipandu oleh relawan tersebut untuk menuju
puncak. Selain itu, pada 11 – 12 Januari 2014 juga akan dilakukan kembali
kegiatan bersih gunung,” tambahnya. (y)
Lur, nek ndaki Gunung Slamet sampahe digawa mulih yah. Buang nang nggone aja sembarangan...


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !