![]() |
| Slametan (en.wikipedia.org) |
Judul tersebut di atas tentu tidak asing lagi bagi
pendengaran telinga kita. Sebab di kalangan masyarakat Jawa baik golongan atas
maupun bawah, dari agama apapun kadang mengadakannya. Sehingga sadar atau tidak
sadar, mereka telah melestarikan tradisi leluhur yang adi luhung.
Slametan adalah
merupakan manifestasi budaya Jawa asli untuk mendapatkan jalan lurus menuju
sasaran, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Slametan memiliki dua versi. Masing -
masing bersifat permohonan simbolik, dan ungkapan rasa syukur kepada Sang
Pencipta Alam seisinya. Oleh karna itu Slametan juga di sebut syukuran
.
Hakekat slametan dalam pandangan Jawa danyatakan, bahwa
manusia hidup di dunia tidak hanya mencari sandang, pangan ,dan papan saja,
melainkan yanglebih penting adalah kesuwargan (sorga). Maka setiap kehidupan
orang Jawa yang belum hilang"Jawa"-nya,saat hendak memulai sesuatu
usaha, biasanya di dahului dengan mengadakan slametan. Juga sejak ia masih
dalam kandungan ibu, lahir di dunia, menjalani kehidupannya, dan sampai kembali
ke liang kubur, senan tiasa menjumpai slametan yang di tandai dengan kenduri
atau dalam bahasa Jawa disebut kepungan.
Tradisi slametan ini merupakan ujud tindakan ritual dari
teks - teks Hindu, Budha, dan Islam yang sampai jaman modern sekarang inin
masih lekat dihati orang - orang Jawa. Bahkan ketika orang - orang Jawa jaman
dulu masih banyak yang menganut animisme dan dinamisme, slametan menjadi pusat
mistik kejawan. Sementara kenduri sebagai tanda slametan. Dalam bentuk
ragawi, kenduri dapat jelas terbaca juga
merupakan budaya campuran. Sebab bila disimak secara seksama, unsur - unsur
yang memberi warna dalam kenduri tersebut, mencerminkan tahap berlangsungnya
pengaruh animisme (kejawen),Hindu, Budha dan Islam.
Perangkat yang mutlak harus ada dalam kenduri itu, adalah
nasi tumpeng beserta lauk - pauknya, yang masing - masing memiliki makna.
Menurut pengertian, tradisi kenduri adalah makan bersamadengan jenis makanan
tradisional. Sebelum makan di mulai, makanan yang telah tersaji dihapan
undangan, terlebih dahulu dilengkapi dengan doa - doa menurut agama Islam.
Padahal sebagai tanda slametan, kenduri sebenarnya merupakan tradisi budaya
sinkretisme menurut kepercayaan animisme
dan dinamisme. Inilah kehebatan orang Jawa yang bisa beradaptasi dengan
budaya apapun tanpa adanya benturan.
Semua saling mendukung dan jalin - menjalin.
Titik sentral dari agama Jawa menurut Suwardi Endraswara
dalam bukunya "Mistik Kejawen", tidak lain berujud pada ritual -
ritual slametan yang di oplos dengan adat istiadat Jawa. Tradisiyang masih
primitif dan puritan (murni), justeru serin mewarnai ke aslian hubungan
mistik.Siametan di pandang sebagai representasi harapan yang penuh pengorbanan
secara ikhlas lahir batin.
Itulah sebabnya, melalui sinkretisme yang semakin
kental,membuat sulit untuk membedakan, mana budaya slametan yang sudah
terpengaruh dan mana yang masih asli. Akhirnya masyarakat Jawa tidak peduli
mempersoalkan antara asli dan yang tidak asli. Mereka dengan ikhlas dan
sadar,menerima kontrak budaya spiritual dan selanjutnya meng-klim sebagai
budaya miliknya.(Tri/KabareBralink)


walah ujarku mbok kabare bralink bar slametan
ReplyDelete