![]() |
| Menikmati Kesegaran Kedung Pinggit Desa Wisata Panusupan |
PURBALINGGA – Anda bosan dengan kunjungan
ke daya tarik wisata buatan? Cobalah, sesekali datang ke Desa Wisata
Panusupan, Kecamatan Rembang, Purbalingga. Banyak cara seru untuk menikmati
keindahan alam dan seni budaya di desa yang berada di ujung timur laut Kota
Purbalingga.
Seperti halnya yang dilakukan para owner
biro wisata dan jurnalis dari berbagai media cetak yang mengunjungi ke desa itu
dalam acara 'Fam Trip & Media Writer' yang diselenggarakan oleh Dinas
Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga
akhir bulan lalu.
Mereka yang datang dari berbagai kota di Jateng, DIY, Jabar dan Jakarta,
mengaku sangat terkesan setelah menikmati Desa Wisata Panusupan. Mereka sangat
menikmati wisata dengan keindahan alam yang masih terasa segar dan penduduknya
yang ramah.
“Saya sangat terkesan sekali bisa berwisata
ke Desa Panusupan, saya akan tawarkan kepada klien dan kerabat di Jakarta agar
bisa menikmati desa wisata Panusupan di Purbalingga,” tutur Jonathan dari
Nathan Tour Holiday Jakarta.
Senada dengan Nathan, peserta lain
Windiarto dari Surya Prima Tour Yogya juga mengungkapkan hal yang sama.
Windiarto mengaku benar-benar bisa menikmati wisata yang alami lengkap dengan
suasana penduduk desa yang ramah tamah. “Ini menurut kami merupakan paket
wisata alternatif yang layak saya jual ke konsumen,” tutur Windiarto.
Rombongan Fam Trip dan Media Writer yang
berjumlah 31 orang, begitu datang di Desa Panusupan langsung disambut dengan
welcome drink berupa minuman nira kelapa (badek) dan wedang jahe. Rombongan
datang hampir menjelang petang, dan sejurus kemudian pengurus Kelompok Sadar
Wisata ‘Ardi Mandala Giri’, memberikan beberapa arahan dan membagikan homestay
untuk tempat berisitirahat. Meski berada di desa, homestay yang dipakai
semuanya dalam keadaan bersih dan tertata rapih. Tuan rumah juga dengan cekatan
memberikan jamuan makanan khas seperti ketela, atau buah salak yang sedang
musim di desa itu.
![]() |
| Kesenian Rodat yang Terancam Punah |
Rombongan kemudian pada malam hari
mengikuti ramah tamah dengan Dinbudparpora, para pengurus Pokdarwis dan
Paguyuban Wisata Purbalingga (Wisbangga). Disela-sela diskusi, mereka disuguhi
seni tradisi yang sudah nyaris punah. Pokdarwis setempat menyuguhkan seni Rodat
yang para penarinya semuanya laki-laki dan sebagian sudah cukup umur. Tak hanya
itu, juga disuguhi seni Lengger dan siteran untuk mengiringi makan malam khas
desa. Menu makan malam pun sangat sederhana, namun terasa nikmati. Ada sayur
nangka, oseng tempe, mendoan, kluban dan ikan asin.
“Kami merasa rindu dengan makanan khas desa
seperti ini, suguhannya sangat enak dan rasanya ingin terus nambah,” tutur
Pandu, salah seorang peserta dari Semarang yang juga ketua Himpunan Pramu
Wisata (HPI) Jateng.
Pada hari kedua, Minggu (29/11), setelah
menikmati sarapan di homestay masing-masing, peserta diajak menuju rest area
Wana Tirta. Begitu sampai di rest area ini,rombongan dihibur dengan seni
Dayakan. Mereka langsung mengambil foto untuk kenang-kenangan. Dana beberapa
saat kemudian, para peserta langsung membaur dan ikut menari bersama penari
Dayakan. Setelah puas menikmati seni Dayakan dan perbukitan disekitarnya,
peserta diajak menuju curug Pesantren. Dengan berjalan kaki sekitar 30 menit,
peserta menysuri jalan desa dan jalan setapak. Sayup-sayup dalam perjalanan
terdengar suara kothekan lesung yang dibawakan oleh para ibu rumah tangga warga
setempat.
Di Curug Pesantren, suasana ternyata
semakin seru. Begitu melihat air yang jernih dan terasa segar, para peserta
langsung bergegas mendekatinya. Beberapa peserta tak sabar dan langsung melepas
baju untuk mandi menikmati kucuran air dari curug setinggi lebih 20 meter ini.
Usai dari curug Pesantren, peserta diajak
menuju Regol Ardi Lawet. Ardi Lawet merupakan petilasan penyebar agama Islam
Syech Jambu Karang. “Kami tidak mengajak para peserta menuju petilasan Ardi
Lawet, karena waktu yang terbatas. Untuk menuju petilasan dibutuhkan waktu
sekitar 2 jam pulang pergi dengan berjalan kaki,” tutur ketua Pokdarwis Ardi
Mandala Giri, Yanto Mardi yang memandu peserta.
Setelah beberapa saat beristirahan di pintu
masuk Regol Ardi Lawet, sebagian peserta tertarik membeli souvenir berupa
tongkat dari kayu rotan. Lepas dari Regol Ardi Lawet, peserta diajak
menuju Kedung Pingit. Selain untuk menikmati air yang jernih di
titik awal sungai, peserta juga diajak menikmati santap siang. Menunyapun tetap
sederhana namun menggugah selera. Ada sayur daun talas yang oelh warga di
Panusupan disebut sayur Lontop. Lauknya ikan asin, kluban, sambal dan petai
yang banyak dijumpai di desa itu.“Luar biasa makan siangnya, ada petai yang
ditambah sambal. Pokoknya nikmati seklai,” tutur Agus Maryono, salah satu
jurnalis dari media terbitan Jakarta.
Usai dari Kedung Pingit, peserta diajak
melihat kerajinan kayu yang ada di desa setempat. Beberapa peserta memborong
kerajinan untuk sekedar oleh-oleh. Hari menjelang sore, para peserta bergegas
untuk kembali ke tempat masing-masing. Setelah berkemas di homestay
masing-masing, para peserta kembali berkumpul di sekretariat Pokdarwis untuk
berpamitan. Beberapa peserta terpaksa membawa tas yang lebih berat isinya. Para
pemilik homestay ternyata banyak yang berbaik hati. Mereka diberi oleh-oleh
buah salak. “Wahh ini banyak banget oleh-oleh salaknya. Ibu pemilik homestaynya
ramah sekali dan sangat terkesan dengan kedatangan tamu wisatawan,” tutur Evi,
salah satu jurnalis dari media terbitan Bandung.



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !