“Kita harus terbuka apa adanya dan berkomitmen tinggi, orang Purbalingga yang sudah menjalankanya contohnya Jenderal Soedirman. Dia nasionalis tulen!”
Purbadi
Hardjoprajitno adalah salah satu tokoh yang dilahirkan oleh bumi Purbalingga.
Ia adalah contoh sosok yang sukses dalam karir, bisnis dan kegiatan sosialnya.
Purbadi dikenal secara nasional sebagai advokat handal, khususnya di bidang
ketenagakerjaan. Selain itu, bisnisnya di bidang transportasi dan perkayuan
juga sukses. Kegiatan sosial kemasyarakatan pun banyak digelutinya.
![]() |
| Purbadi Hardjoprajitno, Tokoh Pendidikan dan Dermawan dari Purbalingga (KB/ImamYunianto) |
Kabare
Bralink berkesempatan untuk mewawancarai Purbadi disela kesibukanya yang
bejibun beberapa waktu lalu. Gaya
bicaranya blak-blakan, lugas namun juga penuh humor. Berbicara dengan Bapak
empat anak ini sangat menyenangkan dan menambah pengetahuan. Spektrum
pengetahuanya sangat luas, mulai dari bidang hukum yang ditekuninya sejak dibangku
kuliah, politik, pendidikan, budaya sampai sejarah.
Purbadi
Hardjoprajitno, anak nomor tiga dari sebelas bersaudara ini dilahirkan di
Purbalingga, Jumat Wage, 10 Oktober 1941. Ayahnya Maksoem Hardjoprajitno adalah tokoh terpandang di Purbalingga dan
juga aktivis di Partai Nasional Indonesia (PNI). Ibunya Siti Djamilah juga
aktivis dan pernah menjadi anggota DPRD (1971-1975) dari Wanita Marhaenis.
Dengan
didikan orang tuanya, tak heran Purbadi menjadi aktivis dan organisatoris
ulung. Presiden Pertama RI Soekarno, pendiri PNI dan pencetus marhaenisme
menjadi tokoh panutannya. “Saya Soekarnois sejati,” katanya kepada Kabare
Bralink.
Purbadi
lahir dan menamatkan pendidikan dasar di Purbalingga, Ia kemudian meneruskan ke
pendidikan menengah pertama dan lanjutan di Demak dan Semarang dan lalu merampungkan
pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
Setelah mendapatkan gelar sarjana hukum, Purbadi diangkat menjadi dosen dan
tidak berapa lama diangkat menjadi pembantu dekan di almamaternya itu.
Sejak
di bangku kuliah, Ia bersama teman-temannya sudah memulai praktek memberikan
bantuan hukum di Yogyakarta. Meski karirnya sempat diwarnai dengan pengalaman
pahit di era orde baru yang membuat dirinya sempat kehilangan hak perdata dan
hak politiknya. Namun, Purbadi tidak putus ada dan tetap berusaha. Akhirnya, pada
1985, Ia berhasil mendirikan Kantor Advokat dan Firma Hukum Purbadi and
Associate. Kantor
advokatnya banyak menangani masalah ketenagakerjaan sesuai dengan spesialisasinya.
Beberapa perusahaan terkemuka pun memakai jasanya sebagai konsultan hukum
seperti City Bank, Lippo Bank, BII, Plaza Indonesia dan lainnya. Pengalamanya
dalam bidang ketenagakerjaan dan perburuhan, Ia tuangkan dalam buku ‘Kebebasan
Berserikat dan Implikasinya.
Purbadi
juga memiliki pengalaman sangat luas sebagai pembicara tentang Hubungan
Industrial di berbagai forum nasional dan berbagai pelatihan di
perusahaan-perusahaan, ia dipercaya sebagai Asisten Tim Pelaksana Penyusunan
Naskah Akademis Peraturan Perundang-undangan Departemen Kehakiman RI, Anggota
Delegasi ke Internasional Labour Conference (ILC / ILO) di Geneva, pada
Committee on Contract Labour, Ketua Delegasi Pemda DKI Jakarta untuk studi
masalah Social ke negara-negara Philipina dan Thailand, Australia.
Purbadi
juga aktif dalam bidang akademik. Ia menjadi Pembantu Direktur Bidang Akademik
& Kemahasiswaan di Akademi Litigasi Yayasan Pengayoman Departemen Kehakiman
RI (ALTRI PENGAYOMAN), Jakarta, Dosen hukum di perbagai perguruan tinggi dan Aktif
berbagai kelembagaan Tripartit Nasional, Dewan Pengupahan, Penyusunan Naskah
Akademis Peraturan Perundang-Undangan Departemen Kehakiman RI.
Selain
tentang hukum dan bisnis, ia juga aktif di organisasi mulai dari SR hingga ke
bangku kuliah. Purbadi pernah menjadi anggota ikatan Sarjana Rakyat Indonesia
(ISRI) cabang Yogyakarta (1964-1967) dan menjadi sekertaris anggota Jamiatul
Muslimin Yogyakarta di 1978. Ia juga menjadi sebagai Ketua DPD Asosiasi
Pengusaha Indonesia (APINDO) DKI Jakarta dan Sekjen DPP APINDO dan pernah
menjadi dewan penasihat DPP IKADIN.
Meski
kesibukanya segudang, Purbadi juga tak melupakan kegiatan sosial, pendidikan
dan keagaman. Ia aktif di berbagai yayasan, seperti Yayasan Fisabililah di
Pondok Rangon, Jakarta Timur yang menampung anak-anak yatim dan lansia. Pada
1996 sampai sekarang Ia juga aktif menjadi Ketua Majlis Sekolah SMK 34 Jakarta.
Kemudian, Ia juga aktif di Yayasan Kusuma Bangsa yang menangani penanggulangan
HIV AIDS.
Kepada
daerah kelahiranya, Purbalingga, Ia juga tidak lupa. Meski sering
berpindah-pindah ke berbagai kota mengikuti orangnya, Purbadi tetap merasa
sebagai orang Purbalingga tempat dimana Ia dilahirkan. “Bagaimanapun saya orang
Purbalingga, mati pun nanti saya inginnya di Purbalingga,” katanya.
Saat
masih menjadi mahasiswa, Ia telah mendirikan Kemangga (Keluarga Mahaiswa
Purbalingga). Purbadi menjadi ketuanya. Pengalaman itu, kata dia, sangat
berkesan.
Saat
itu, Kemangga menjadi motor kegiatan sosial dan kesenian di Purbalingga.
Kemangga juga menjadi perekat berbagai etnis yang ada di Purbalingga. “Saat itu anak-anak etnis termasuk etnis Tionghoa
sulit bergaul, kita wadahi disitu,” katanya. Salah satu rekannya yang dingat
adalah Sutarto Rachmat yang pernah menjadi orang nomor 2 di Purbalingga. “Dulu
kalau pentas di kawedanan, Pak Tarto ngendangnya bagus banget,” katanya
mengenang,
![]() |
| Sekolah Purba Adhi Suta yang didirikan oleh Pak Purbadi di Purbalingga (arsitekbiro.worpress.com) |
Selain
itu, banyak kegiatan seni dan olahraga di Purbalingga yang disponsorinya.
Purbadi juga banyak memberikan beasiswa tanpa ikatan kepada pelajar asal
Purbalingga yang tidak mampu. “Alhamdulilah sudah banyak yang lulus dan bisa
berkarya,” katanya. Melalui Yayasan Purba Adhi Suta, Ia juga mendirikan sekolah
di tanah pribadinya di Purbalingga untuk anak-anak kesulitan belajar dan
memiliki kebutuhan khusus. Purbadi juga memiliki Panti Asuhan Siti Djamilah dan
menjadi donator tetap Yayasan Yatim Piatu Mardani Siwi.
Kemuadian,
karena kepedulian dan kiprahnya untuk Purbalingga, Purbadi pun pernah
dicalonkan menjadi bupati. Hanya saja waktu itu ia mencium aroma politik uang
yang sangat kental sehingga dirinya memilih untuk mundur. “Eman-eman uangnya,
mending buat yang lain saja yang lebih bermanfaat,” katanya.
Namun,
semangatnya untuk memperbaiki Purbalingga tak pernah luntur. Tentu saja, Ia
berkeinginan Purbalingga lebih maju dimasa yang akan datang. “Jangan hanya
ekspor pembantu dan menjadi buruh,” katanya. Menurutnya, sumberdaya manusia di
Purbalingga harus lebih banyak diperbaiki.
Purbalingga,
kata dia, memiliki potensi yang sangat besar di bidang pertanian. “Jangan
terpengaruh modernisasi dan industry yang hanya memtuk kemajuan instan,”
katanya. Ia tak rela warga Purbalingga hanya dieksploitasi untuk kepentingan
investor asing. “Kita harus berdikari
dan menjadi tuan di tanah sendiri,” katanya. Purbadi pun menyitir falsafah
Trisakti yang pernah dilontarkan Presiden Sukarno yaitu berdikari secara
ekonomi, berdaulat secara politik dan berkperibadian di bidang
kebudayaan.”Pakai itu, jangan dilupakan,” katanya berapi-api.
Diakhir
pembicaraan, Purbadi pun berpesan kepada warga Purbalingga untuk bisa
menjalankan motto paguyuban Seruling Mas yang diciptakanya yaitu cablaka pengabdi setia, artinya “Kita
harus terbuka apa adanya dan berkomitmen tinggi, orang Purbalingga yang sudah
menjalankanya contohnya Jenderal Soedirman. Dia nasionalis tulen,” katanya.
Kepada generasi muda ia juga menitipkan pesan yang disampaikanya dalam bahasa
Banyumasan. “Aja gegoh, aja reang, sing guyub sing rukun mbangun bangsane
dewek,” katanya.
Ok
deh Pak Pur.. lanjut terus perjuangane mbangun Purbalingga! (Kabare Bralink/Igoen)
NB : tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Kabare Bralink
#TokohPurbalingga #Purbadi #Dermawan #PurbaAdhiSuta



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !