![]() |
| (Meme lucu tukang ojek online; Source) |
PURBALINGGA
- Belakangan terakhir ini ramai tentang kisruh transportasi berbasis online dengan transportasi biasa. Bahkan, salah satu provokator yang tertangkap polisi, merupakan satu dari sopir taksi ternama. Secara tidak langsung juga, dengan adanya demo anarkis, penumpang di Jakarta lebih memilih naik taksi atau ojek online karena dirasa lebih aman.
Nah, tentang transportasi umum secara online dengan yang bisa, kita punya cerita, nih.. Simak ya, sedulur...!
Jogja dan ribut-ribut penolakan Uber di Jakarta membuat saya
bereksperimen sosial menggunakan 2 sistem moda transportasi yang
sekarang sedang seru bertentangan, online vs konvensional. Sebab, di
Jogja belum ada Uber saya tidak mengkomparasikan taksi, saya
bandingkan dua macam ojek, sebut ojek online dengan Ojon dan ojek
pangkalan dengan Opang. Saya mencoba dengan 2 rute yang hampir sama
tapi bolak-balik.Ojon, saya gunakan Go-Jek dari Hotel Alana di
Palagan ke Stasiun Tugu dan Opang dari Malioboro ke Hotel Alana.
Well,
Naik Opang dulu saya ceritakan. Ya seperti ngojek biasa, saya pesen,
tawar menawar sebentar dan kemudian saya meluncur ke tujuan. Tarif
yang disepakati Rp 20 ribu, sampai lokasi saya beri tips Rp 10 ribu.
Itung-itung buat tips karena saya banyak nanya kepada driver opang
yang berumur sekitar 50 tahunan itu. Ia, Pak Anton namanya kalau ndak
salah (waktu nanya nama jawabanya kurang jelas) mengeluh
penghasilannya berkurang karena hadirnya Ojon.
“Turun,
mas, lumayan turunya, ojek pangkalan yang lain juga ngeluh,”
katanya.
Namun,
dia tak mau ikut-ikutan anarkis seperti di Jakarta meski memaklumi
banyak Opang yang kesal dan melakukan aksi menolak Ojon. Driver ojek
yang tak mau ngebut itu pun enggan beralih menjadi driver Ojon.
Alasanya, sudah nyaman dengan menjadi driver Opang. Meski demikian,
dia juga tidak mau tergilas persaingan begitu saja. Untuk menyikapi
kerasnya dunia perojekan, dia mencoba memperbaiki layanan dan
melakukan promo personal. Cara yang diterapkan juga sederhana namun
inovatif, tukang ojek berusia 50 tahunan ini membagikan nomor
ponselnya dan berpesan kalau ke Jogja bisa menghubungi dia.
Next..
Kemudian soal pengalaman
ber-Ojon, ini pertama kali saya pesen Go-Jek, tinggal masuk aplikasi,
masukan tempat jemput dan tujuan yg sudah dipandu Google Map, segera
muncul tarif yg harus dibayar. Klik Order. Ok. Tak sampai
semenit, driver nelpon mengenalkan diri dan mengabarkan bahwa dia
meluncur. Saya sempat menghabiskan 1 croissants dan 2 cinnamon
rolls mini dan segelas air putih menunggunya datang ke
lobby hotel. Setelah sampai di lobby, driver yg bernama Pak
Agung segera menelpon kembali, saya datang lalu dia memastikan
pemesan, kemudian menyerahkan helm dan menawarkan apakah mau masker
atau tidak.
Sepanjang
perjalanan sekitar 15 menit saya pun banyak bertanya mengenai
pengalamannya menjadi driver go-jek. Ia baru 4 bulan menjalaninya.
Ojek daring itu sandaran hidupnya yg baru yang dijalaninya full time.
“Alhamdulilah
sehari saya dapat 50-100 ribu gampang, Mas,” ujarnya saat saya
tanya pendapatanya.
Selain
go-ride, dia juga banyak mendapatkan orderan go-food dari
masyarakat Kota Gudeg. Soal penolakan Ojon di Jogja, sejauh ini masih
belum terlalu masif, meski di beberapa tempat sesekali terjadi
gesekan dengan ojek pangkalan namun tak sampai anarkis.
“Kalau
sampai dipukul atau motor saya dirusak saya tidak akan membalas,
tinggal visum dan laporkan ke polisi. Negara ini kan negara hukum,”
katanya. Ok, sip.
Sesampai
di tujuan, saya diturunkan tak jauh dari ojek pangkalan Stasiun Tugu.
Tatapan tak suka pun terlihat jelas dari kerumunan ojek pangkalan.
Tadinya saya mau selfie dengan Pak Agung untuk mengabdikan
momen pertama kali saya naik Go-Jek, namun salah satu driver Opang
langsung mendekati dan 'mengusir' kami.
“Cepet
Lik, cepet, ojo neng kene sue-sue,”(Cepat, dek, cepat, jangan
lama-lama di sini-red) ujarnya.
Saya
pun membatalkan selfie dan Pak Agung berlalu dengan senyuman. Sebagai
penutup, kisruh Ojon vs Opang itu membuat saya jadi teringat teori
evolusi Bung Lamarck dan Darwin yang diajarkan saat SMP. Kedua
ilmuwan tersebut sama-sama menggunakan Jerapah sebagai bahan
eksperimenya. Lamarck bilang Jerapah tadinya berleher pendek semua
kemudian jadi panjang-panjang untuk menjangkau makanannya, Jerapah
yang nggak bisa manjangin lehernya dalam proses evolusi dan adaptasi
dengan lingkungan sekitarnya kemudian punah.
Sementara
Darwin berteori, tadinya Jerapah ada yang lehernya pendek, ada juga
yang panjang. Namun, yang leher pendek punah dan tergilas
perkembangan zaman karena tak mampu beradaptasi dengan sumber makanan
yg ada di pohon yang tinggi. Tinggalah Si Jerapah leher panjang.
Intinya,
hikmah yang bisa diambil dari kisruh online dan konvensional
tersebut adalah kalau mau bertahan di tengah jaman yang makin edan ya
kita memang harus berubah, beradaptasi, berinovasi. Jika tidak,
jangan salahkan jika kemudian tergilas roda-roda zaman yang berputar
kencang. Jangan pula timpakan kesalahan kepada orang lain yang mau
berubah atas ketidakberdayaan kita.
Bagaimana
mau lepas jomblo kalau kita sendiri tak mau move on. Bagaimana mau
dapat pasangan kalau terus teringat mantan! Jangan salahkan pula
mantan yang sudah sadar dan move on atas kejombloanmu yang akut. Yo
ora cukk? #NoteFromJoglokerto
(Kabare Bralink/Igoen)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !