PURBALINGGA
– Pemerintah Kabupaten Purbalingga ditetapkan menjadi ranking dua
Nominasi TOP 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (SiNovik) 2016.
Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (MenPAN-RB) Nomor
51 Tahun 2016 tentang Penetapan TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik 2016.
Kepala
Bagian Organisasi dan Kepegawaian (Orpeg) Setda Purbalingga Widiyono
menuturkan, kompetisi SiNovik ini diselenggarakan tiap tahun oleh
KemenPAN-RB. Kabupaten Purbalingga baru kali pertama masuk nominasi
TOP 99 dengan usulan proposal berjudul “Matahari untuk Kaum Papa
di Purbalingga” yang mengangkat salah satu terobosan inovasi
pelayanan publik di SMK Negeri 3 Purbalingga.
“Purbalingga
mengirim tiga proposal terkait subsidi bunga oleh Bagian
Perekonomian, kemudian kunjungan jemput bola dokter kandungan
terhadap ibu resiko tinggi di Puskesmas dan Matahari untuk Kaum Papa
di Purbalingga,” katanya, Rabu (9/3).
Setelah
dilakukan penilaian, salah satu proposal dari Purbalingga masuk TOP
99 dan berhak mengikuti tahapan seleksi berikutnya. Dimana tim
penilai akan melakukan perankingan TOP 40 dan terakhir menjadi TOP
10.
“Untuk
menjadi TOP 40, Pak Bupati (Tasdi-red) akan melakukan paparan
dihadapan tim penilai di KemenPAN-RB Jakarta. Paparannya Kamis besok
(10/3). Mudah-mudahan kita terus berlanjut dan dapat masuk sepuluh
besar dengan ranking terbaik,” jelasnya.
Menurut
Widiyono, keunggulan kabupaten Purbalingga dalam inovasi pendirian
SMK Negeri 3 Purbalingga yang sebelumnya disebut SMK “Duafa”
menjadi sekolah yang peduli terhadap masyarakat miskin. Kepedulian
itu diwujudkan dalam sistem perekrutan yang diutamakan bagi siswa
berprestasi dari kaum duafa sehingga memiliki akses untuk melanjutkan
pendidikan yang lebih tinggi.
“Mereka
belajar dengan sistem boarding school atau diasramakan
dengan fasilitas yang dicukupi, dibimbing pembinaan karakternya dan
intelektualnya. Ternyata prestasi anak-anak kaum duafa juga luar
biasa,” katanya.
Hasil
akhir yang ingin dicapai dari inovasi yang dilakukan pemkab setelah
para siswa selesai belajar di SMK Negeri 3 Purbalingga dapat menjadi
pemutus mata rantai kemiskinan di keluarganya.
Seperti
diketahui, pendirian SMK Negeri 3 Purbalingga berawal dari tahun 2010
dimana Bupati Purbalingga waktu itu, Heru Sudjatmoko (kini Wakil
Gubernur Jawa Tengah-red) mulai menggagas pendirian SMK gratis
yang khusus menampung siswa miskin.
Pada
2011, Purbalingga mendapat penghargaan dari pemerintah pusat berupa
Dana Insentif Daerah (DID) Rp 27 miliar atas prestasi 5 tahun
berturut-turut dapat menetapkan APBD secara tepat waktu. Momentum
inilah yang kemudian menggugah Bupati untuk mewujudkan impian
membangun sekolah gratis berasrama.
“Pembangunannya
dilakukan selama 2 tahun anggaran dengan total anggaran Rp 6,9 miliar
yang sumber dananya dari Dana Insentif Daerah (DID) tahun 2011 dan
2012,” tambahnya.
SMKN
3 yang dibangun diatas lahan seluas 27.200 m2 dengan total luas
bangunan mencapai 2.270 m2 diresmikan pada awal tahun 2013.
(Kabare
Bralink/Hms)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !