PURBALINGGA
– Sebagai warga Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara, Cilacap,
Gombong, Tegal, Brebes, Kebumen dan sekitarnya, kita masih
menggunakan bahasa ngapak. Meski bahasa tersebut nyaris punah karena
para penerus/generasi muda jarang menggunakan bahasa yang menjadi
simbol orang Banyumasan. Padahal, bahasa ngapak tersebut merupakan
bahasa yang daerah yang harus dilestarikan oleh masayarakat,
khususnya warga Banyumasan.
Baca juga : Lur, Bahasa Ngapak Terancam Punah!
Sesuai
yang dilansir oleh liputan6.com, Bahasa ngapak terkenal dengan logat
medhok yang khas. Dialek ngapak dipopulerkan oleh selebritas dari
daerah ngapak semisal pelawak Parto, atau juga oleh para pelaku usaha
kuliner warung Tegal yang tersebar di berbagai daerah.
Dialek
ngapak bisa dikenali antara lain dari pengucapan akhir kata dengan
tegas, terutama jika diakhiri dengan huruf 'k'. Dengan dialek ini,
ujaran bahasa Indonesia pun bisa di-ngapak-kan, misalnya baris yang
pernah populer, “Oke lah, kalau begitu.”
Menurut
Eko Gunanto yang ditelepon oleh tim liputan6.com, mengatakan, bahwa
bahasa ngapak lebih tua dari bahasa Jawa lainnya.
“Konon
bahasa ngapak lebih tua dibandingkan rumpun bahasa Jawa lainya.
Bahasa ngapak lebih dekat dengan bahasa sansekerta yang banyak
berakhiran 'a' bukan 'o'. Kalau bahasa Jawa lain kan banyak yang pake
'o',” jelas Eko Gunanto kepada wartawan liputan6.com.
Dia
mencatat beberapa kata, istilah, atau frasa bahasa ngapak sudah
populer bahkan me-nasional. Istilah inyong misalnya, banyak yang
paham bahwa itu pengganti kata saya dalam bahasa ngapak. Kebalikannya
rika yang artinya kamu. Ada juga kencot, yakni lapar.
“Sering
banget dipakai,” kata Gunanto. Setelah kencot, kegiatan yang
dilakukan adalah badhog atau makan.
Bahkan
Eko Gunanto menambahkan, bawah Purwokerto, ada jalan dengan banyak
tempat makan di sepanjang GOR Satria dinamakan Jalan Badhogan. Di
Purbalingga, tepatnya di Kelurahan Bancar, ada pasar jualan jajanan
dinamakan Pasar Badhog.
“Sekarang
malah diberi nama Bancar Badhog Center (BBC),” jelasnya.
Dan
masih banyak istilah-istilah lain dalam bahasa ngapak yang sudah
populer. Seperti
kepriben
artinya bagaimana. Biasa untuk pertanyaan semacam 'kepriben si Son?'
artinya 'bagaimana sih, Bro?'. Padanan kata kepriben itu kepriwe atau
keprimen.
Ada
juga dablongan artinya lawakan atau guyonan. Di media lokal
Kabarebralink, ada rubrik Dablongan dengan bahasa ngapak.
“Salah
satu kegiatan kita nguri-uri bahasa ngapak adalah dengan membuat
rubrik itu. Silahkan dibaca sambil ngakak,” kata Gunanto yang
menjadi pemimpin redaksi media tersebut.
Selain
itu, dalam bahasa pergaulan ada kata cempulek, atau sering diknal
jebul. Istilah ini sering dipakai bersama owalah.
“Owalah,
cempulek jebul kaya kue rika?! artinya owalah, ternyata seperti itu
kamu?!,” jelas Gunanto.
Untuk
orang yang matanya jelalatan, penutur bahasa ngapak menyebutnya
pecicilan.
“Misalnya
matamu aja mecicil' artinya matamu jangan jelalatan atau melotot,”
jelas Gunanto.
Tapi
pecicilan bisa berarti grusa-grusu, sembarangan, padanannya
penjorangaan alias sembarangan. Pecicilan dalam arti berperilaku
ugal-ugalan padanannya pethakilan yang berarti nakal, banyak tingkah.
Frasa ngapak yang juga banyak dipakai adalah babar pisan atau babar
blas, artinya sama sekali.
Gunanto
juga menambahkan, budaya ngapak juga menggenggam nilai dan norma,
termasuk nilai norma kepantasan. Jika ada orang yang berperilaku
melanggar nilai dan norma, ada baris teguran atau peringatan yang
terdengar akrab, aja kaya kue, jangan seperti itu.
(Kabare
Bralink/Liputan6)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !