PURBALINGGA
- Setiap tanggal 2 Mei, merupakan hari penting di Indonesia, karena
merupakan hari pendidikan nasional. Dalam rangka memperingatinya,
Bupati Tasdi melaunchingkan Kartu Purbalingga Pintar (KPP). Kartu ini
bertujuan agar anak-anak usia sekolah tidak sekolah (AUSTS) bisa
mengeyam pendidikan sampai tingkat sekolah menengah pertama atau
menamatkan wajib belajar 12 tahun. Tasdi mengatakan KPP berbeda
dengan Kartu Indonesia Pintar (KIP), kalau KIP memberikan bantuan
kepada anak yang sudah sekolah. Kalau KPP memberikan bantuan kepada
anak usia sekolah yang belum sekolah.
“Kita
harapkan dengan bantuan Rp 1 juta untuk calon siswa SD dan Rp 1,5
juta untuk calon siswa SMP dengan syarat dari keluarga miskin, bisa
melanjutkan sekolahnya,” sebut Tasdi di sela-sela upacara
peringatan Hardiknas di Alun-alun Purbalingga, Senin (2/5).
Uang
itu nantinya untuk membeli pakaian, sepatu, tas, buku untuk mereka
bisa sekolah. KPP berfungsi untuk mengantar anak agar bisa masuk
sekolah. Berdasarkan data tingkat keberhasilan wajardiknas masih 96%
, dan APK SMP masih 96%.
“Sehingga
masih ada 4% usia anak 7-12 tahun yang belum masuk SD, dan ada usia
12-16 tahun tidak masuk SMP,” katannya
Dengan
adanya KPP ini Bupati berharap akan berimbas pada peningkatan indek
pembangunan manusia (IPM) yang salah satu unsurnya adalah pendidikan.
Dengan Angka rata-rata lama sekolah sebesar 7,3 th, artinya lulus SD
ditambah 1 tahun 3 bulan. Sehingga wajardikdas 9 tahun di
Purbalingga belum terwujud.
“
Sehingga KPP ini untuk mendukung
wajardikdas 9 tahun, dan tahun ini kita anggarkan Rp 3 miliar,”
kata Tasdi.
Kemudian
jika pada tahun ini belum tercover semua maka pada tahun 2017 akan
kita tambah anggarannya.
Kepala
Dinas Pendidikan, Tri Gnawan mengatakan untuk mensukseskan program
KPP, Dinas telah melakukan pendataan di tingkat desa, semua kepala
sekolah dan dibantu oleh para camat. Setelah di data ternyata data
BPS (Badan Pusat Statistik) tidak pas.
“Dari
hasil pendataan ada 468 anak usia sekolah tetapi berpotensi tidak
sekolah/putus sekolah untuk anak SD, sedangkan untuk SMP/MTs ada
1116 yang tidak sekolah atau putus sekolah,” kata Tri Gunawan.
Tri
Gunawan menambahkan ada kendala dalam pelaksanaan KPP terhadap
anak-anak yang berkebutuhan khusus tapi usianya 7-15 tahun. Karena
sekolah berkebutuan khusus di Purbalingga hanya ada satu. Padahal
jangkauannya jauh dan kebanyakan rata-rata berasal dari orang tidak
mampu.
“Sehingga
lebih banyak diutamakan biaya trasportasinya,” kata Tri Gunawan.
Untuk
pengawasannya akan melibatkan para guru, di mana anak itu akan
bersekolah, sehingga uang itu tidak diberikan dalam bentuk cash.
Tetapi dalam bentuk tabungan, dan ketika anak tersebut butuh pakaian,
sepatu, dan keperluan sekolah lainnya, uangnya tinggal diambil dengan
seharga kebutuhannya.
“Kalau
dalam bentuk cash, kami khawatir jika digunakan tidak sesuai
peruntukannya, seperti beli pulsa sehingga tidak tepat sasaran.
Program ini akan terus dikawal sehingga akan tepat sasaran,”
jelasnya.
Tri
GUnawan menambahkan, bantuan siswa miskin dan KIP di Purbalingga
tahun 2016 sebesar Rp 12 miliar. Namun demikian pada KIP masih ada
beberapa kendala yakni ketika KIP menggunakan data pokok kependidikan
(dapodik) tahun 2015. Sehingga masih ada anak yang lulus dan yang
sudah bekerja masih tercantum mendapatkan KIP.
“Setelah
kita cek untuk anak klas 6 SD, klas 9 SMP dan Klas 12 SMK/SMA
rata-rata anaknya sudah tidak bersekolah, sehingga kami sedang minta
direvisi agar tepat sasaran dengan dapodiknya tahun berjalan,”
pungkasnya.
Data
Dinas pendidikan Purbalingga terdapat AUSTS uisa 7-12 tahun sejumlah
442 anak, 13-15 tahun sebanyak 1.255 anak. Yang Mau sekolah sebanyak
598 anak dan yang tidak mau sekolah sebanyak 1.025 anak.
(Kabare
Bralink/Humas)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !