Meringis,
Miris dan Mengiris
Oleh
: Umi Uswatun Hasanah
Malam...
Aku
memang wanita malam, menjalang dalam liar
Ini
dunia keras, yang sesekali miris dan mengiris, katanya
Kulihat
kanan kiri, muda-mudi berboncengan tiada penutup
Mendekap
dengan erat, bersenda–gurau tiada penyaring
Ini
malam Minggu, kata mereka nyaring
Ha
ha ha... aku ikut tertawa dalam gelap
Penyakit
lupaku memang akut
Aku
terlalu sibuk belajar berempati
Dalam
dunia yang kata mereka keras dan mengiris
Hujan...
Aku
menantang hujan
Melantangkan
waktu dalam keresahan
Susah
Aku
susah sekali berdamai
Berdamai
dengan keadaan dan waktu yang melecut dalam siksa
Kulihat
bukan hanya jalanan itu yang basah
Tapi
pipi perempuan penyembuh lukaku ikut basah
Mama...
Tak
perlu khawatirkan aku
Aku
kuat juga tak berkarat tuk meminta keadilan
Aku
tidak bisu, Mama
Aku
juga tidak buta, Mama
Biar
anak kecilmu ini melatih para si pembisu tuk berbicara
Biar
anak kecilmu ini membelalakan mata para pendongak langit
Kalo
perlu, kucongkel mata mereka dari kelopaknya
Ha
ha ha...
Aku
memang anarkis
Aku
memang sudah muak menerima dalam jemu
Tempo
lalu keringatku bercucuran,
Sedang
mereka berselfie ria dalam keramaian
Sembari
berseru ‘sebentar lagi keadilan datang’
Aku
meringis, miris dan mengiris
Purbalingga,
22 Mei 2016


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !