PURBALINGGA
– Dalam rangkaian acara Festival Gunung Slamet (FGS) ke-2 di hari puncak,
sangat meriah. Pasalanya kegiatan tersebut merupakan parade budaya
dan kesenian dari Rest Area Serang, Karangreja, Purbalingga, Sabtu
(15/10). Warga Desa Serang mengikuti dengan membawa hasil bumi yang
selama ini telah dihasilkan. Hasil bumi tersebut berupa sayuran,
buah-buahan dan lainnya. Tak kalah menarik juga ada repeplika hewan
atau binatang yang menjadi 'penunggu' gunung slamet selama ini.
Meski
Gunung Slamet sering mengeluarkan lahar (aktif), tetapi tetap
memberikan kesuburan dan kemakmuran tanah di sekelilingnya. Terbukti
hasil panen melimpah dan tanahnya subur untuk ditanami sayuran,
palawija dan buah lainnya. Untuk itulah, wujud syukur terangkum
menjadi satu dalam pawai budaya ini.
Pengunjung ikut berfoto pada pawai budaya di Rest Area Serang
Acara
yang dimulai dari pagi itu sangat meriah. Terlebih antusias dari
pengunjung yang ingin menyaksikan dan mengikuti 'Grebeg Sayur' serta
kirab air dari ritual suci Sikoptiyah. Ditambah lagi dengan adanya
ruwatan agung, rebutan tumpeng dan hasil bumi.
Semua
lapisan masyarakat berbondong-bondong untuk menyaksikan dan
mengikuti. Baik dari kalangan muda, tua dan anak-anak.
Persiapan kirab air suci Sikopyah
Dijelaskan
juga oleh Kepala Desa Serang, bahwa acara ruwatan agung merupakan
budaya yang harus dilestarikan ke anak cucu kita. Selain itu, acara
ini juga menjadikan semua elemen bekerjasama dengan baik. Karena
mereka semua bergotong royong dan menjunjung kerukunan.
Setelah
acara selesai, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah
Raga (Dinbudparpora) Purbalingga Subeno, dan pejabat terkait
mengucapkan terima kasih atas sukses dan lancarnya Festival Gunung
Slamet yang ke II. Dan dalam bentuk itu, mereka bersalaman kepada
seluruh peserta 'Pembawa Lodong' dalam kirab air suci Sikopyah.
Dan
harapannya, tentu saja agar FGS ke 3 di tahun depan semakin apik dan
menjadi daya magnet para wisatawan baik dari daerah maupun luar
Purbalingga.
Keistimewaan dari FGS ke 2, selain acara pawai budaya yang meriah, di malam harinya ditutup dengan Festival Jazz Gunung Slamet bersama Isyana Sarasvati.
(Kabare Bralink/Ery)



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !