PURBALINGGA
– Menikmati yoghurt berbahan susu murni mungkin sudah menjadi hal
yang biasa. Namun, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengan (UMKM) dari Desa
Munjul, Kecamatan Kutasari, Purbalingge membuat berbagai varian
yoghurt. Ada rasa buah naga, ada rasa melon, rasa buah stroberi, rasa
original dan ada rasa susu jagung.
Produksi
yoghurt milik Muhamad Yani masih dikelola dalam skala rumah tangga.
Rata-rata per hari memproduksi yoghurt dengan bahan baku utama susu
murni sebanyak tiga liter.
“Meski
pemasaran kami sudah sampai ke Purwokerto, namun kami masih
memproduksi secara terbatas. Kami belum mengembangkan secara
besar-besaran karena terbatas pada peralatan dan bahan baku susu
murni,” kata Yani disela-sela pemantauan UMKM oleh Wakil Bupati
Dyah Hayuning Pratiwi, kemarin.
Muhamad
Yani mengungkapkan, semula ia menggeluti produksi yoghurt dengan
bahan baku susu murni saja. Selain itu juga dari susu kambing Etawa.
Yani kemudian mengembangkan membuat yoghurt susu jagung. Hal ini
didasari melimpahnya hasil panen jagung di wilayah Kecamatan
Kutasari.
“Setelah
mendapat pelatihan dari Unsoed, kami mulai mencoba membuat yoghurt
susu jagung. Meski menambah varian rasa jagung, namun bahan baku
utama berupa susu tetap dipakai, namun susu yang digunakan berupa
susu skim, bukan susu murni,” kata Yani.
Seiring
dengan tuntutan konsumen, Yani mulai mengembangkan yoghurt berbagai
varian seperti stroberi, melon, buah naga dan rasa buah lainnya.
“Anak-anak biasanya paling suka dengan yoghurt rasa buah-buahan
ini,” ujar Yani yang menggeluti usahanya bersama istri.
Untuk
harga jual, Yani mematok harga Rp 8.000 per botol kepada grosir,.
Namun jika dijual langsung ke konsumen harganya Rp 10 ribu per botol.
Isi satu botol 250 mililiter. Penjualan langsung dilakukan yani di
tempat keramaian seperti di kompleks stadion olah raga baik di
Purbalingga maupun di Purwokerto.
Yani
menambahkan, dengan bahan baku tiga liter susu murni dan ditambah
buah sesuai varian yang diinginkan, bisa menjadi 15 – 20 botol.
Produk yoghurt harus disimpan dalam frezzer, atau jika akan
dikonsumsi langsung bisa hanya didinginkan sebentar. Jika disimpan
dalam frezzer mampu bertahan hingga tiga bulan, namun jika hanya
disimpan dalam kulkas hanya bertahan dua minggu. Jika disimpan dalam
suhu ruangan biasa hanya bertahan 25 jam saja.
Kendala
yang dihadapi, lanjut Yani, dalam hal perijinan ke Balai POM yang
belum selesai. Selain itu juga label kemasan per botolnya. Mestyinya
label dibuat dari plastik, namun untuk bahan baku plastik di
Purwokerto saja belum bisa didapat. Label yang digunakan saat ini
menggunakan kertas.
Wakil
Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi yang mengunjungi home
industri yoghurt itu sangat mendukung untuk dikembangkan. Persoalan
yang dihadapi pelaku UMKM sedapat mungkin bisa dibantu oleh
Pemerintah Daerah melalui Dinas Koperasi dan UKM.
“Kami
terus mendorong agar varian produksi yoghurt semakin bervariasi
disesuaikan dengan selera konsumen. Selain itu, soal perijinan dan
labeling pada botol akan diupayakan,” kata Wabup Tiwi.
Wabup
Tiwi yang mencoba berbagai varian itu seperti rasa buah naga dan rasa
melon ternyata sangat suka.
“Yoghurt
ini sangat membantu pencernaan. Sangat baik untuk dikonsumsi semua
orang. Selain rasanya segar, juga menyehatkan tubuh,” kata Wabup
Tiwi setengah promosi.
(Kabare
Bralink/Dinkominfo)



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !