PURBALINGGA
– Lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ menggema di sebuah rumah
kecil di RT 1/RW I Desa Karangdure, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga,
Rabu (8/2) sore. Meski tanpa potong kue dan tiuoan lilin, setidaknya
bisa menghibur Safa Nur Latifah (7) bocah penderita Hidrocephalus.
Lagu itu spontan dinyanyikan Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, SE,
B.Econ setelah mengetahui bocah malang itu berulangtahun ke tujuh
pada tanggal 6 Pebruari kemarin.
Suasana
sedikit gembira, karena tamu yang berkunjung seperti Camat Bobotsari
Drs Harsono, Kepala Bidang Humas dan Informasi Komunikasi Publik, Ir
Prayitno, M.Si, Kepala Puskesmas Bobotsari Drg Yenawati Hartanto,
M.PH beserta jajaran staf ikut menyanyikan pula lagu itu. Sesaat
kemudian Wabup menyerahkan satu dus bantuan dan sejumlah uang tunai
kepada Suritno (50), kakek Safa yang merawatnya saat ini.
Meski
mencoba menghibur Safa, kesedihan Wabup Tiwi tampak tak bisa
ditutupi. Naluri sebagai seorang ibu yang melihat anak kecil
mengalami hidup yang susah dan harus menderita penyakit.
“Safa,
tetap gembira ya, jangan patah semangat. Bu dokter akan mencoba terus
menyembuhkan Safa,” tutur Wabup Tiwi kepada Safa yang berada
digendongan kakeknya, Suritno.
Keseharian
Safa tinggal bersama kakeknya, Suritno. Suritno terpaksa harus keluar
dari pekerjaan sebagai kuli batu di Jakarta dan memilih merawat Safa.
Ibu kandung Safa, Tri Susanti telah meninggal dunia saat Safa berusia
lima tahun. Tri Susanti meninggal karena penyakit Typus. Sedang sang
ayah Yusup Susanto juga telah meninggal beberapa waktu kemudian
menyusul Tri Susanti. Yusup meninggal karena penyakit liver. Sebelum
meninggal, Yusup sudah meninggalkan Tri Susanti bersama Safa.
“Saat
Tri Susanti, anak ketiga saya meninggal, Yusup tak datang ke rumah.
Setelah itu, dia tak pernah datang ke rumah lagi dan akhirnya kami
diberitahu jika Yusup juga telah meninggal. Safa kini harus saya
rawat sendiri,” tutur Suritno.
Dengan
kondisi yang tidak memungkinkan untuk bekerja, dan disisi lain harus
merawat Safa, untuk hidup sehari-hari, Suritno hanya menggantungkan
dari anak keduanya yang bekerja di pabrik rambut. Selain itu bantuan
dari Kementerian Sosial, juga bisa sedikit menopang kehidupan Suritno
dan Safa.
Meski
menderita Hidrochepalus, Safa bisa diajak komunikasi. Dengan bahasa
yang sedikit kurang jelas, namun bisa diajak komunikasi. Sayangnya,
kepala Safa tidak bisa tegak, dan tubuhnya lemas. Untuk duduk, Safa
tidak mungkin. Kepalanya tetap harus disangga dengan tangan jika
hendak digendong.
“Kalau
ditinggal sebentar saja, sudah panggil-panggil saya. Ia harus saya
gendong terus,” tutur Suritno yang kini juga hidup menduda.
Suritno
menuturkan, kepala cucu keempatnya itu mulai membesar sejak bayi.
Sang ibu, ketika itu masih hidup sudah berusaha membawa ke rumah
sakit secara rutin. Pengobatan juga terus dilakukan. Namun, karena
keterbatasan biaya, akhirnya, Safa hanya berobat ke Puskesmas. Sang
ibu ketika itu sudah pasrah, apapun yang akan terjadi pada Safa.
Namun, sang ibu kini sudah berpuang dan tak mungkin mengetahui
penderitaan anak satu-satunya itu.
Safa
dengan suara tidak jelas langsung menimpali, kepalanya dimasukin
selang. Rasanya sakit. “Sakit sekali, ada selang di kepala saya,”
tutur Safa.
Suritno
kini juga hanya bisa pasrah. Hidupnya kini khusus untuk merawat
Safa, salah satu cucu dari empat cucunya yang tengah bernasib malang.
“Siapa
lagi yang akan merawat Safa. Anak saya yang lain harus bekerja
mencari nafkah untuk keluarga. Di rumah hanya tinggal saya, dan
sayalah yang harus merawat Safa. Terkadang kalau saya sambi memasak,
Safa juga sering menangis. Saya tidak sampai hati jika harus
meninggalkannya. Mumpung saya masih sehat, entah jika kelak saya juga
sudah meninggal, siapa yang akan merawat Safa,” tutur Suritno.
Kepala
Puskesmas Bobotsari, Drg Yenawati hartanto, MPH mengatakan, Safa
mengalami gangguan aliran cairan di dalam otak. Cairan itu dalam
istilah kedokteran disebut serebro spinal. Akumulasi cairan serebro
spinal itu yang semakin bertambah banyak selanjutnya menekan jaringan
otak disekitarnya khususnya pusat syaraf yang vital.
“Untuk
mengurangi pembesaran kepala tindakan yang dilakukan adalah dengan
pemasangan selang kepala guna mengalirkan cairan yang menumpuk
berlebihan di otak. Sayangnya tindakan itu tidak rutin dilakukan
terhadap Safa. Jika sekarang dilakukan, sedikit sudah terlambat.
Apalagi, tulang leher seperti lemas sehingga kepala tidak bisa
tegak,” kata Yenawati.
(Kabare
Bralink/Dinkominfo)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !