PURBALINGGA – Bagi penggemar
musik keroncong, nama Sundari Soekotjo tentu tidak asing lagi.
Setidaknya sudah 40 tahun, wanita berparas ayu kelahiran 14 April
1965 ini tetap konsisten bergelut di dunia keroncong.
“Perkembangan musik keroncong, khususnya
bagi kalangan anak muda memang tidak sepesat aliran musik lain, oleh
karenanya saya berkomitmen ingin terus mendorong perkembangan musik
keroncong digemari kalangan generasi muda. Sudah saatnya estafet
musik keroncong beralih ke kalangan muda,” kata Sundari Sukotjo
saat berbincang-bincang sebelum tampil pada acara resepsi Hari Ulang
Tahun (HUT) ke-72 Proklamasi Kemerdekaan RI di Pendapa Dipokusumo,
Pemkab Purbalingga, Kamis (17/8) malam.
Sundari yang tampil membawakan delapan
lagu mengaku bangga dengan Pemerintah Kabupaten Purbalingga yang
getol ikut mendukung perkembangan musik keronjong.
“Saat saya tampil diiringi grup
keroncong ‘Harmoni Kerontjong Moeda’ yang semua anggotanya
generasi muda, saya sangat bangga. Penampilan Trio Putri Keroncong
yang membawakan medley lagu Indonesia semakin menunjukkan ternyata
masih banyak anak-anak muda yang jatuh cinta dengan musik keroncong.
Begitu juga saat berduet dengan gadis SMA, Az Zahra Syanda Salsabila,
ternyata luar biasa,” ujar wanita yang memiliki nama lengkap
Sundari Untinansih Soekotjo ini.
Dengan sejumlah lagu yang ditampilkan
seperti Langgam Jembatan Merah, langgam Gambang Semarang, Gethuk,
Keroncong Tanah Air, Rangkaian melati, Rek Ayo Rek, Kemesraan, mampu
menghibur para pengunjung yang memenuhi pendopo Diposukumo.
Sundari Soekotjo mengungkapkan, beberapa
kota sempat menggelar festival musik keroncong. Ia juga terus
memperhatikan perkembangan musik keroncong di daerah.
“Tahun depan, kami rencananya juga akan
menggelar semacam festival keroncong khusus untuk anak-anak muda,
saya akan undang kelompok pemusik keroncong dari Purbalingga ini,”
ujarnya.
Ketika ditanya soal kota Purbalingga,
Sundari mengaku sangat nyaman dan betah datang ke Purbalingga. Ia
mengaku, begitu sampai di stasiun Purwokerto langsung disambut dengan
baik, begitu juga saat menginap di Owabong Cottage. “Saya juga
sempat mencoba kuliner sate Yani, rasanya khas dan empuk. Saya juga
sempat dijamu Pak Bupati (Bupati Purbalingga Tasdi, SH, MM –
red) sesaat sebelum pentas di pendopo. Disuguhi sate Yani juga,
wah enak sekali rasanya,” ujar Sundari yang pernah mengajar di SMA
38 Jakarta.
Sundari yang lulusan pendidikan D-III IKIP
Jakarta tahun 1987, dan sarjana musik Universitas Negeri Jakarta pada
tahun 2002 serta menempuh pendidikan pascasarajana dengan konsentrasi
sumberdaya manusia, ternyata menurunkan bakat menyanyi keroncong
kepada anak semata wayangnya, Intan Putri Permatasari.
(Kabare Bralink/Hms)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !