PURBALINGGA – Siapa
sangka kehidupan masyarakat RW 8 atau yang dikenal dengan Kampung
Baru, Desa Bobotsari, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga, bisa berubah
total. Kampung padat penduduk itu, dulu dikenal dengan kampung kumuh
dan sebagian pemudanya suka begadang serta mabuk-mabukan. Kini,
semuanya berubah total seiring dengan kehadiran Kampung Warna.
Rumah-rumah warga yang berada 100 meter Selatan terminal bus
Bobotsari itu, dicat warna-warni. Ada juga gambar tiga dimensi yang
dijadikan spot foto para pengunjung.
“Sebelum ada kampung warna,
sebagian pemuda disini suka begadang dan mabuk-mabukan. Sekarang,
mereka sudah sadar tidak mabuk-mabukan. Mudah-mudahan, juga tidak
mabuk di tempat lain, sudah benar-benar berhenti mabuk,” kata Sri
Utomo, salah satu tokoh warga Kampung Baru disela-sela kunjungan
rombongan wartawan pada kegiatan safari jurnalistik bersama Dinas
Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purbalingga, Rabu (4/10).
Sri Utomo mengungkapkan, warga
Kampung Baru kini juga mulai sadar setelah banyaknya kunjungan di
kampungnya. Mereka tidak lagi menjemur pakaian asal-asalan di depan
rumah hingga terkesan kumuh. Halaman rumah warga juga nampak rapi.
“Warga disini sudah mulai sadar wisata, mereka merasa malu jika
menjemur pakaian di halaman rumah. Mereka juga rutin membersihkan
halaman rumah dan gang di sekitarnya hingga tampak bersih. Beberapa
warga juga bisa berjualan jajanan hasil karyanya,” ujar Sri Utomo.
Rumah di Kampung Baru tercatat
ada sekitar 120 lebih. Kampung itu terbagi dalam tiga Rukun tetangga
(RT), masing-masing RT 1, 2 dan RT 3 yang terwadah dalam RW 8 Desa
Bobotsari. “Baru sekitar 42 rumah warga yang dicat warna warni.
Mudah-mudahan secara bertahap semua rumah di Kampung Baru bisa di cat
warna-warni mulai dari tembok, gang hingga bagian genteng,” ujar
Sri Utomo.
Kampung Warna dirintis sejak
Agustus 2017 lalu. Ketika itu, menjelang peringatan kemerdekaan RI.
Warga sepakat tidak hanya membersihkan lingkungan dnegan mengecat
putih dan memasang layur, tetapi juga sekaligus mengecat rumahnya
dengan warna-warni.
“Untuk mengecat rumah warga,
kami harus meminjam uang Rp 10 juta dari kas RW. Pinjaman itu akan
dibayar selama 1,5 tahun. Semangat warga khususnya para pemuda,
bekerja siang malam akhirnya terwujud rumah-rumah warga yang menarik
dan unik. Ada warga yang mengecat sepedanya dan memberi asesoris
bunga untuk tempat foto,” ujar Sri Utomo, sembari menambahkan sejak
20 Agustus 2017 hingga akhir September 2017 sekitar 7.000 pengunung
lebih sudah datang ke kampung warna.
Lukisan yang bisa dijumpai di
kampung warna dan unik untuk berswafoto seperti tokoh kartun Doraemon
dan Batman. Ada juga gambar Ratu Pantai Selatan. Disalah satu sisi
jalan gang selebar satu meter dekat selokan dihiasi aneka bunga dari
sampah plastik yang berwarna-warni. Ada juga gambar tiga dimensi
seperti ikan Hiu yang seolah siap menerkam, pintu ajaib, burung kakak
tua dan elang yang siap bertengger di lengan pengunjung, payung untuk
melindungi dari air hujan, dan aliran air yang seolah-olah tertuang
ke tangan pengunjung.
“Di Kampung warna ini ada
tiga zona, masing-masing zona pola warna, zona lorong warna, dan zona
tiga dimensi,” tambah Aris Widianto, Ketua Kelompok Sadar Wisata
(Pokdarwis) Bobotsari.
Aris mengatakan, Pokdarwis yang
mengelola Kampung warna sebagian besar terdiri dari anak-anak muda.
Ada tiga tim, masing-masing tim kreatif, pelayanan dan pemasaran.
Ketiga tim tersebut akan terus mengembangkan kampung warna. Mereka
masih fokus mengembangkan kampung tersebut dengan zona khusus untuk
lukisan 3D dan pemanfaatan sungai yang mengalir di tengah kampung
tersebut.
“Rencananya sungai akan
dijadikan mini tubbing untuk anak-anak dan akan diadakan juga event
melukis 3D di RT 01/08," ujarnya.
Selain itu, areal desa yang
memiliki lansekap persawahan indah juga akan digarap bekerja sama
dengan petani dan pemilik lahan. "Akan dibuat spot-spot khusus
untuk foto selfie. Seperti apa bentukannya nanti, tunggu kejutannya
dari kami," ujar Aris.
Untuk pengelolaan diambilkan
dari dana pendapatan tiket masuk Rp 3.000 per orang. Dana yang
terkumpul, 30 persen untuk petugas yang bekerja, 30 persen untuk
pengembangan, dan sisanya untuk membayar angsuran pinjaman ke RW.
Ketua RW 08, Muhdi
mengapresiasi kerja pokdarwis dan antusiasme luar biasa dari warga
dan pemuda-pemudi desa. Ia mengatakan, sebelumnya Gang Kampung Baru
penuh dengan sampah berserakan. Sungai juga penuh dengan sampah
plastik.
“Begitu dirapatkan, muncul
gagasan kampung warna, warga menyambutnya antusias. Pemuda-pemudi
mengecat, menggambar dan menata kampung. Warga bergantian membuatkan
makanan dan minuman untuk mereka. Itu dikerjakan penuh selama satu
bulan," ujarnya.
Muhdi menambahkan, saat ini
semua warga memiliki kesadaran untuk membuang sampah di tempat
sampah. Bahkan, anak kecil sudah rajin tidak asal membuang sampah.
“Kampung kami yang semakin
terlihat bersih, indah, makin banyak mendapat kunjungan, kesadaran
untuk menjaga kebersihan tertanam secara mendalam di benak warga.
Kami bersyukur dan akan terus berupaya untuk menjaga dan
mengembangkan Kampung Warna ini," kata Muhdi.
(Kabare Bralink/Hms)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !