PURBALINGGA – Bupati
Purbalingga H Tasdi, SH, MM menegaskan, ancaman terhadap keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah di depan mata.
Ancaman itu antara lain aksi terorisme, radikalisme, anti Pancasila,
dan konflik berlatarbelakang Suku Agama dan Ras antar golongan
(SARA).
“Ancaman itu harus ditangkal
bersama, salah satunya dengan membentuk kader-kader bela negara,”
kata Tasdi.
Bupati tasdi menegaskan hal
tersebut saat memberikan pengarahan pada upacara pembukaan
pembentukan kader bela negara di kompleks bumi perkemahan Munjuluhur,
Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, Senin (13/11) sore. Pelatihan
bela negara angkatan I tahun 2017 diikuti 270 peserta yang terdiri
224 peserta putra dan 46 putri. Pelatihan angkatan I berlangsung
tanggal 13 – 18 November 2017, dan dilanjutkan angkatan II dengan
jumlah peserta yang sama mulai tanggal 20 – 25 November 2017.
Tasdi menegaskan, program bela
negara dilakukan karena ancaman ke depan bukan lagi soal perang
terbuka. Ancaman bisa datang dari internal dan dari eksternal.
Ancaman dengan memasukan paham tertentu yang anti pancasila dan juga
adu domba antar sesama warga.
“Sebagai generasi muda, harus
melawan paham radikalisme, dan berani membela Pancasila. Semangat
bela negara harus terpateri kuat di dada para pemuda yang akan
menjadi masa depan bangsa,” kata Tasdi.
Bupati Tasdi juga mengungkapkan
keprihatinan soal pelaku terorisme yang berasal dari Purbalingga. Ada
tiga orang pelaku aksi terorisme ternyata berasal dari P{urbalingga.
“Yang lebih mengerikan lagi,
ada beberapa Pegawai negeri Sipil (PNS) yang terlibat gerakan yang
melawan Pancasila,” ungkap Tasdi.
Tasdi meminta kepada para
generasi muda untuk terus mengemban semangat perjuangan Jenderal
Besar Soedirman.
“Jenderal Soedirman rela
memimpin perang gerilya ketika sakit sekalipun. Dia tidak
menghiraukan rasa sakitnya demi memperjuangkan kemerdekaan. Kini
saatnya, para generasi muda harus bersemangat seperti layaknya
Jenderal Soedirman. Apalagi, Soedirman lahir dari Purbalingga,”
katanya.
Bupati Tasdi menambahkan,
sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (PJMD) tahun
2016 – 2021, salah satu misi yang diemban adalah mengembangkan
wawasan kebangsaan. Untuk membangun wawasan kebangsaan, maka diadakan
kegiatan pelatihan bela negara. Kabupaten Purbalingga menjadi
satu-satunya kabupaten yang menyiapkan kader bela negara, dan telah
mendapat apresiasi dari pemerintah pusat. Tahun lalu, telah dilatih
540 orang kader bela negara, namun yang lulus hanya 499 orang. Tahun
ini, juga akan dilatih 540 orang, dan diharapkan peserta yang tidak
lulus semakin sedikit.
“Kami meminta pelatih untuk
memilih 10 orang peserta terbaik, dan akan mendapat penghargaan,”
kata Tasdi.
Sementara itu Kepala Kantor
Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Drs
Muhamad Nadjib, M.Si mengatakan, pelatihan bela negara di setiap
angkatan berlangsung selama enam hari. Pelatihan bela negara untuk
memperkuat karakter peserta yang cinta tanah air dan memiliki
semangat untuk membela negara dari segala ancaman. Materi yang
diberikan antara lain wawasan kebangsaan, nasionalisme, kepemimpinan,
tata aturan hukum, baris berbaris, anti narkoba, ketenagakerjaan,
tata upacara militer dan sejumlah materi lainnya.
Saat upacara pembukaan dan
kegiatan awal, sudah belasan peserta pingsan. Bunyi suara ledakan
yang sengaja dibunyikan beberapa kali oleh pelatih, sempat membuat
sejumlah peserta kaget. Beberapa diantaranya, ada yang langsung
pingsan. Apalagi para peserta diperintahkan untuk berguling-guling
diatas rumput yang berlumpur dan basah akibat hujan.
(Kabare Bralink/Hms)



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !