PURBALINGGA – Ratusan
perajin tahu tempe di Purbalingga saat ini bergantung pada pasokan
kedelai impor sebagai bahan bakunya. Mereka tak mampu berbuat banyak
jika harga kedelai impor melambung. Sementara, pasokan kedelai lokal
hanya mampu memenuhi 30 persennya saja kebutuhan perajin. Dalam satu
bulan, rata-rata kebutuhan kedelai bagi 218 perajin di beberapa
sentra industri tahu tempe mencapai 100 ton.
“Bahan baku berupa kedelai
sebagian besar merupakan kedelai impor dari Amerika Serikat. Harga
kedele impor berfluktuatif tergantung pada kurs rupiah terhadap
dollar Amerika dan pasokannya. Saat ini harga berkisar pada Rp.
6.500,- s/d 7.000 per kg. Sebenarnya, kedelai lokal cukup bagus untuk
pengolahan tahu dan tempe, namun ketersediaan tidak kontinyu,” kata
Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag)
Purbalingga, Drs Bambang Sukendro, M.Si, disela-sela membuka
pelatihan GMP (Good Manufacturing Practices) untuk Industri Kecil
Menengah (IKM) tahu tempe, di aula Dekopinda Purbalingga, Selasa
(5/12).
Dikatakan Bambang Sukendro,
Sentra IKM tahu tempe berada di Kelurahan Kalikabong dan Desa
Klapasawit, Kecamatan Kalimanah, Desa Selanegara, Kecamatan
Kaligondang, Desa Limbangan dan Desa Kutasari di Kecamatan Kutasari,
Desa Gandasuli, Kecamatan Bobotsari, Kelurahan Kandanggampang,
Kecamatan Purbalingga dan Desa Makam, Kecamatan Rembang. “kendala
yang dihadapi perajin tahu tempe, selain soal ketersediaan bahan baku
kedelai, juga menyangkut teknologi pengolahan, kebersihan dan
sanitasi produksi, serta pemasaran,” kata Bambang.
Dari sisi pemasaran, masih
untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Dari sisi variasi produk olahan
berbahan tahu, juga masih sangat terbatas. Untuk memenuhi pasokan
kebutuhan tahu tempe warga Purbalingga saja masih kurang, sehingga
masih dipasok dari luar Purbalingga. “Upaya promosi produk tahu
perlu digalakkan, seperti Kegiatan Pesta Tahu di Kelurahan Kalikabong
pada hari Minggu, 3 Desember 2017 kemarin lusa. Produk tahu dapat
diolah menjadi beragam makanan, antara lain brownies tahu, puding
tahu, sate tahu, pizza tahu, tahu bulat, tahu krispi dan lainnya,”
kata Bambang Sukendro.
Dari sisi persoalan teknologi
pengolahan, lanjut Bambang Sukendro, pengolahan yang dilakukan masih
menggunakan teknoogi yang sederhana. Hanya sebagian yang sudah
menggunakan teknologi tepat guna, antara lain penggunaan steam
boiler.
“Penggunaan teknologi akan
meningkatkan efisiensi produksi yaitu dengan hemat waktu, hemat
biaya, hemat tenaga namun kualitas produksi lebih baik, lebih
higienis serta kuantitas produksinya lebih meningkat,” jelas
Bambang Sukendro.
Sedang menyangkut higienis dan
sanitasi proses pengolahan tahu dan tempe menjadi permasalahan utama.
Sebagian industri tahu dan tempe terkesan kumuh, kurang menjaga
kebersihan ruang produksi, serta menghasilkan limbah baik limbah
padat maupun limbah cair yang dibiarkan begitu saja. Sebagian limbah
masih mempunyai nilai ekonomi, namun apabila tidak ditangani maka
limbah akan mencemari lingkungan.
Sementara itu, Kepala Seksi
Industri Agro, Budi Baskoro, S.STP, M.Si mengatakan, untuk
meningkatkan kualitas produksi bagi IKM tahu tempe, Dinperindag
menggelar pelatihan bagi 30 perajin tahu tempe. Pelatihan berlangsung
hingga Kamis (7/12). Setelah pelatihan diharapkan para pelaku IKM
tahu tempe mampu menerapkan standar GMP guna meningkatkan kualitas
mutu produk serta mampu membangun manajemen mutu perusahaan yang
tepat dan efektif.
“GMP merupakan pengendalian
mutu dan hygienitas produk melalui pengendalian faktor lingkungan
kerja serta proses produksi. GMP ini mencakup design dan lay out
pabrik, pemeliharaan dan sanitasi, pengendalian proses produksi,
personel hygiene, penanganan produk akhir (siap jual) dan lain-lain.
Memproduksi suatu produk bermutu tinggi dan hygienis tidak cukup
hanya dengan kegiatan inspeksi, namun mencakup keseluruhan aktifitas
pengendalian,” kata Budi Baskoro.
(Kabare Bralink/Hms)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !