PURBALINGGA - Kesadaran
pemberian ASI (Air Susu Ibu) Eksklusif di Purbalingga masih rendah.
Hal itu terungkap saat acara pelepasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata
(KKN) praktik keperawatan komunitas dan keluarga Stikes Harapan
Bangsa Purwokerto di desa Karangcegak kecamatan Kutasari, Kamis
(24/5). Hasil itu diketahui dari data pemetaan para mahasiswa selama
5 (lima) minggu mulai dari 25 April hingga 26 Mei 2018.
Perwakilan mahasiswa KKN, Tin
Utami memaparkan, para mahasiswa KKN Stikes Harapan Bangsa menemukan
beberapa kasus kurangnya kesadaran masyarakat di bidang kesehatan
salah satunya tingkat kesadaran pemberian ASI eksklusif. Dia
mengatakan, dua desa yang menjadi sasaran KKN yaitu Karangcegak dan
Candinata terdapat 24 (dua puluh empat) Balita yang menderita
stunting sudah tertangani oleh Puskesmas Kutasari yang diindakasi
tidak mendapat ASI eksklusif dari ibu.
“Kami menemukan 24 Balita
yang stunting. Walaupun sudah tertangani, ini menjadi indikator di
dua desa tersebut masih rendah kesadaran pemberian ASI eksklusifnya
harus mendapat perhatian dari dinas terkait ,” kata Tin Utami.
Dia menambahkan, dirinya
beserta para mahasiswa lain telah melakukan beberapa solusi agar
kesadaran pemberian pemberian ASI eksklusif meningkat. Dua program
andalannya adalah penyuluhan secara komprehensif dan masif kepada
para ibu yang mempunyai anak Balita dan Posyandu (Pos Pelayanan
Terpadu) yang dilakukan atas kerjasama para kader.
“Kami memberikan bimbingan
kepada para kader agar bisa memberikan penyuluhan secara terus
menerus ketika masa KKN kami sudah selesai. Jadi tidak ada alasan
lagi adanya kesadaran yang rendah dalam hal pemberian ASI eksklusif,”
imbuhnya.
Tak hanya menemukan rendahnya
kesadaran pemberian ASI eksklusif, mahasiswa KKN tersebut juga
menemukan beberapa masalah lain seperti tingginya angka perokok
remaja, masih adanya buang air besar (BAB) di kali, kesadaran
membuang sampah pada tempatnya yang masih rendah, tingginya resiko
hipertensi pada lansia dan adanya pengidap gangguan jiwa sebanyak 6
(enam) orang.
“Kami merekomendasikan kepada
Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Purbalingga agar mengadakan dana
stimulus peningkatan kesehatan di wilayah ini khususnya untuk
stimulus pembangunan jamban karena masih ada 320 (tiga ratus dua
puluh) rumah yang belum berjamban,” papar Tin Utami.
Kepala Bappelitbangda (Badan
Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah)
Purbalingga, Yani Sutrisno Adi Nugroho yang melepas mahasiswa KKN
menuturkan, Pemkab Purbalingga sangat menaruh perhatian kepada para
mahasiswa yang akan melakukan KKN di Purbalingga. Menurutnya, hal itu
sebagai upya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Purbalingga
agar lebih baik lagi. Dia membawa pesan dari Bupati, peningkatan IPM
Purbalingga memerlukan peran serta semua pihak termasuk dari para
intelektual.
“Bapak Bupati sangat concern
terhadap mahasiswa KKN. Menurut Bupati, kaum intelekual diperlukan
peran sertanya agar peningkatan IPM Indonesia pada umumnya dan
Purbalingga khususnya bisa terangkat,” pungkasnya.
(Kabare Bralink/Hms)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !