PURBALINGGA – Beberapa
waktu yang lalu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga telah
menandatangani nota kesepahaman dengan PT Telkomunikasi Indonesia Tbk
terkait implementasi layanan total solusi smart city. Hal ini
menunjukan bagaimana Pemkab Purbalingga bekomitmen agar Purbalingga
bisa menjadi salah satu Kabupaten smart city.
“Artinya sudah ada goodwill
dari pemerintah agar bagaimana pemerintah daerah ini bisa lebih baik
utamanya kaitannya dengan smart city,” kata Plt. Bupati
Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi saat melaksanakan apel pagi di
Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Purbalingga,
Kamis (28/6).
Untuk mencapai smart city, ia
menyampaikan Dinkominfo Purbalingga harus membuat master plan atau
grand design. Tiwi telah menyetujui anggaran perubahan yang diajukan
oleh Dinkominfo Purbalingga untuk pembuatan masterplan.
“Jadi, di master plan itu
saya ingin ada grand design, artinya tahun pertama kita melakukan
apa, tahun kedua, ketiga dan seterusnya kita melakukan apa, agar
tergambar di dalam grand design itu,” jelasnya.
Untuk mengimplementasikan smart
city tersebut, menurut Tiwi tidaklah mudah karena anggaran yang
lumayan besar. Setelah melakukan studi banding ke Kota Bandung,
anggaran yang diperlukan oleh Pemkot Bandung mencapai Rp 30 M, hal
ini menjadi PR bagi Pemkab Purbalingga untuk mewujudkan Purbalingga
sebagai salah satu kabupaten smart city.
“Tapi saya yakin secara
bertahap secara terencana Kabupaten purbalingga akan mampu
mengimplementasikan smart city ini,” tegas Tiwi.
Smart city yang nantinya ada di
Kabupaten Purbalingga berbeda dengan Bandung, Semarang dan kota-kota
lainnya. Hal ini terlihat dari kondisi permasalahan dan kebutuhan
yang berbeda dengan daerah lainnya.
“Jadi, harapan saya di master
plan itu bisa mengakomodir apa yang menjadi permasalahan Pemkab
selama ini dan apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan pemkab selama ini
bisa terakomodir dalama master plan itu sendiri,” harapnya.
Setelah adanya master plan
atau grand design tentu juga harus didukung dengan infrastruktur dan
jaringan. Saat ini beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang
ada di Kabupaten Purbalingga sudah memiliki aplikasi di masing-masing
OPD.
“Akan tetapi permasalahannya
saat ini belum terintegrasi, nah saya ingin ke depan harus ada portal
yang bisa mengintegrasikan ke semua OPD, portal itu adanya dimana,
adanya di Dinkominfo,” ungkap Tiwi.
Tiwi menambahkan hasil studi
bandingnya ke Bandung, Semarang dan beberapa kota lainnya, portal
data itu terpusat di Dinkominfo. Artinya, ia melanjutkan Dinkominfo
Purbalingga harus mampu menjadi data centernya Pemkab Purbalingga.
“Ketika saya butuh data
kemiskinan saya tidak lari ke Bapelitbangda tapi ke Dinkominfo,
ketika saya butuh data terkait anak usia sekolah tidak sekolah tidak
perlu harus ke Dindikbud, kemudian permasalahan data terkait angka
kematian ibu dan bayi, Dinkominfo juga harus bisa menyediakan,”
paparnya.
Seluruh data Pemkab Purbalingga
nantinya tersentral di data sentral yaitu Dinkominfo. Hal ini yang
harus direncanakan dengan matang, apalagi program smart city bukanlah
sesuatu yang mudah.
“Artinya kita membutuhkan
anggaran yang besar. Oleh karenanya, mulai dari perencanaan sampai
nanti pelaksanaan harus bisa tertata dan terencana dengan baik,”
pungkas Tiwi.
(Kabare Bralink/Hms)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !