PURBALINGGA – Taman
Wisata Pendidikan (TWP) Purbasari Pancuranmas Purbalingga menjadi
salah satu nominasi Indonesia Sustainable Tourism Award
(ISTA) 2018. ISTA merupakan penghargaan kepada pengelola destinasi
wisata yang menerapkan pariwisata berkelanjutan (sustainable
tourism).
Visitasi lapangan dilakukan
oleh Tim dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Minggu (14/10). Tim
visitasi terdiri Prof Dr Ir Winda Mercedes Mingkid, M.Agr. Sc dan
Erric Raymond Tatimu, S, Kom serta pendamping dari kemenpar Dicky.
Tim diterima manajer TWP Purbasari Pancuranmas, Junjung, SE, Kabid
Pariwisata Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinporapar)
Purbalingga, Ir Prayitno, M.SI, anggota konsorsium dan perwakilan OPD
(Organisasi Perangkat daerah) di jajaran pemkab Purbalingga yang
terkait. Selain melakukan kunjungan lapangan, tim juga melakukan
tanya jawab, diskusi dan Focus Group Discussion.
Winda Mingkid mengungkapkan,
dari 176 destinasi wisata se-Indonesia yang mengikuti seleksi awal,
terpilih 43 destinasi. Dari jumlah ini yang diputuskan untuk
dikunjungi 32 destinasi termasuk TWP Purbasari Pancuranmas. “ISTA
tahun ini merupakan kali kedua digelar oleh Kemenpar. Tema yang
diangkat adalah Local Wisdom for Sustainable Development
(Kearifan Lokal untuk Pariwisata Berkelanjutan),” kata Winda
Mingkid yang juga guru besar pada Universitas Sam Ratulangi Menado.
Winda Mingkid mengatakan,
tujuan penyelenggaraan ISTA 2018 adalah memberikan rekognisi terhadap
pihak-pihak yang telah berupaya untuk menerapkan prinsip-prinsip
pariwisata berkelanjutan. Kemudian untuk mendorong lahirnya berbagai
inovasi atas produk-produk pariwisata berkelanjutan dan partisipasi
dan kerjasama sektor publik maupun swasta dalam pembangunan
pariwisata di tingkat destinasi.
“ISTA 2018 ini juga
dimaksudkan untuk menstimulasi agar semakin banyak destinasi yang
menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dan sebagai ajang
promosi serta branding bagi destinasi pariwisata baik di tingkat
nasional maupun internasional dalam rangka mengakselerasi kunjungan
wisata ke Indonesia,” jelas Winda.
Aspek yang dinilai dalam ISTA
2018, lanjut Winda, meliputi tata kelola destinasi pariwisata
berkelanjutan, dampak ekonomi masyarakat sekitar destinasi,
pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, serta aspek
pelestarian lingkungan. “Kami telah melakukan peninjauan lapangan
dan melakukan wawancara dengan pengelola destinasi serta pihak-pihak
terkait termasuk Pemda yang diwaliki dinas yang menangani pariwisata,
TWP Purbasari Pancuranmas sudah cukup baik. Semua kriteria yang
ditanyakan, sudah banyak yang diterapkan oleh pengelola dan juga oleh
Pemkab setempat,” kata Winda.
Sementara itu Pengelola TWP
Purbasari Pancuranmas, Junjung SE mengungkapkan, tempat wisata yang
dikelolanya merupakan milik pribadi H Sarimun. TWP Purbasari mulai
berdiri tahun 2001, atau saat ini sudah 17 tahun berdiri. Karyawan
hampir sebagian besar dari lingkungan destinasi wisata, dan 60
persennya perempuan.
“Dari berbagai aspek
penilaian yang ditanyakan kepada kami, pada prinsipnya sudah
dilakukan oleh TWP Purbasari Pancuranmas. Jika ada hal yang kurang,
kami akan terus berbenah demi meningkatkan pelayanan kepada wisatawan
dan juga kelestarian lingkungan destinasi wisata kami,” kata
Junjung.
Kepala Bidang Pariwisata
Dinporapar Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si mengatakan, pihaknya
mengirimkan beberapa destinasi wisata termasuk desa wisata sebagai
peserta ISTA, namun setelah dilakukan seleksi oleh Tim Kemenpar, satu
destinasi dari Purbalingga yakni TWP Purbasari Pancuranmas berhasil
lolos. “Keikutsertaan ISTA, tujuan awal bukanlah mengejar
penghargaan, tetapi untuk mengukur implementasi pariwisata
berkelanjutan, terutama dalam pengelolaan destinasi wisata. Hal ini
mendasarkan Peraturan Menteri Pariwisata (Permenpar) Nomor 14/2016
tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan,” kata Prayitno.
Dalam pengembangan sustainable
tourism, kata Prayitno, ada tiga poin utama yang harus menjadi
perhatian. Pertama, lingkungan. Pengembangan sustainable tourism
harus memperhatikan aspek pelestarian alam bebas, kualitas dan
keamanan air, serta konservasi energi. Kedua, komunitas. Pariwisata
berkelanjutan juga wajib mempertahankan atraksi, memiliki manajemen
untuk pengunjung, memperhatikan kebiasaan pengunjung, dan menjaga
warisan budaya.
“Aspek ketiga adalah ekonomi.
Sustainable tourism harus memantau perekonomian, peluang kerja bagi
warga setempat, keterlibatan publik, penghargaan dan pemahaman bagi
para turis, dan local access,” jelas Prayitno.
(Kabare Bralink/Wisata)



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !