PURBALINGGA - Melalui
konsep Spendak Wispalingga (SMP Negeri 2 Karangreja
Wisata Pendidikan Adiwiyata Purbalingga), SMP N 2 Karangreja menatap
sekolah Adiwiyata tingkat nasional. Hal tersebut disampaikan kepala
SMP N 2 Karangreja, Riswanto saat ditemui di ruangannya, Senin (3/12)
mengenai kesiapan sekolah tersebut untuk mengembangkan diri guna
menuju sekolah adiwiyata tingkat nasional.
Riswanto mengatakan, konsep
sekolah adiwiyata harus dibungkus menjadi tempat wisata edukasi agar
menjadi stimulus sekolah lain khususnya di Kabupaten
Purbalingga. Menurutnya, sekolah yang dia pimpin ingin selangkah maju
di depan dengan cara mengembangkan konsep tersebut di tengah trend
sekolah adiwiyata yang juga terjadi di Purbalingga.
“Kami punya mimpi sekolah ini
menjadi tujuan wisata edukasi tentang pemanfaatan lahan atau pun
pemanfaatan limbah. Kami ingin sekolah-sekolah di Purbalingga
menengok kesini guna melihat apa yang telah kami lakukan sehingga
kami menjadi sekolah adiwiyata,” kata Riswanto.
Apa yang telah dicapai SMP N 2
Karangreja hingga menjadi sekolah adiwiyata tingkat Provinsi
merupakan kerja keras semua pihak secara marathon. Sekolah
yang awalnya terlihat apa adanya dan terkesan kumuh berhasil disulap
menjadi sekolah yang nyaman. Riswanto mengaku perlu waktu 18 bulan
untuk mengubah sekolah itu menjadi seperti sekarang.
“Perlu waktu 18 bulan. Ini
berkat kerja keras semua pihak khususnya para guru dan siswa yang
bahu membahu menjadikan sekolah ini menjadi seperti sekarang,”
imbuhnya.
Saat disinggung mengenai
pendanaan, dia mengaku hanya memanfaatkan bahan baku yang ada di
sekitar sekolah sehingga biaya yang dikeluarkan tidak besar. Kini,
banyak sekolah yang telah melakukan study banding ke SMP N 2
Karangreja. Tercatat sampai dengan bulan November ada 10 kelompok
yang melakukan study banding di antaranya SMP N 1 Padamara,
SMP N 2 Karangmoncol, SMP N 4 Karangmoncol, SMP N 2 Kemangkon, SMP N
1 Mrebet, SMP N 2 Mrebet, SMP N 2 Purbalingga, DKR Kwaran Karangreja,
Kepala Sekolah dan Guru SD di lingkungan Kecamatan Karangreja,
Siswa-siswi SD di lingkungan Desa Kutabawa dan Serang.
“Dulu sekolah kami
ditertawakan ketika baru akan merintis sekolah adiwiyata. Sekarang
banyak sekolah yang melakukan study banding ke sekolah ini,”
pungkasnya.
(Kabare Bralink/Hms)



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !