PURBALINGGA
– Komisi II DPRD Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat mengadakan studi
banding ke Purbalingga. Mereka belajar tentang pembangunan
pariwisata. Rombongan yang dipimpin ketua Komisi II Endang ER (PKS)
diterima Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga
(Dinbudparpora) Purbalingga Drs. Subeno, SE, M.Si di aula kantor
setempat, Kamis (10/2).
Baca juga : Purbalingga Gagas Museum Anti Narkoba
Endang
mengatakan, Kabupaten Pangandaran yang merupakan kabupaten pemekaran
baru memiliki destinasi wisata sebagian besar berupa pantai.
Pangandaran memiliki 97 kilometer wilayah pantai.
“Sektor
pariwisata Pangandaran menyumbang 40 persen PDRB Pangandaran. Namun
demikian, kami harus terus belajar khususnya untuk pengembangan
pariwisata termasuk pemberdayaan masyarakat melalui desa wisata,”
kata Endang.
Endang
mengungkapkan, kendala pengembangan wisata di Pangandaran terkait
kerjasama dengan Perhutani. Banyak daya tarik wisata yang lokasinya
di areal Perhutani.
“Kami
ingin mengembangkan daya tarik wisata, namun terkendala status tanah
dan pengelolaan lahan milik Perhutani. Ini yang tengah kami cari
solusinya,” ujarnya.
Sementara
itu Kepala Dinbudparpora Subeno mengungkapkan, Kabupaten Purbalingga
memiliki potensi sumberdaya air dan potensi wilayah mulai dari
daratan hingga pegunungan. Purbalingga tidak memiliki pantai seperti
di Pangandaran.
“Secara
geografis boleh dibilang, Purbalingga lokasinya kurang menguntungkan
karena jauh dari jalur pantura dan jalur selatan jateng. Namun, kami
terus berupaya menggejot sektor pariwisata dengan menambah wahana
baru setiap tahunnya. Kami mentargetkan, Purbalingga akan menjadi
kota tujuan wisata utama di Jateng,” kata Subeno.
Subeno
menjelaskan, strategi Pemkab Purbalingga dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dari sisi ekonomi adalah mengembangkan
sektor pariwisata, di samping sektor lain, pertanian dalam arti luas,
industri dan kerajinan, manufaktur dan makanan, serta perdagangan
jasa. Dalam mendukung iklim investasi termasuk investasi pariwisata,
peran Pemkab yakni memberikan kemudahan regulasi, pembinaan,
fasilitasi dan intermediasi. Investasi ini tentunya didukung
sumberdaya alam yang ada dan dukungan sumberdaya manusia.
“Setelah
peran pemerintah dijalankan, tentunya harus didukung oleh masyarakat
melalui upaya sapta pesona industri. Tak terkecuali investasi dari
sektor wisata, ketika dukungan masyarakat kuat, maka iklim investasi
akan berjalan baik,” kata Subeno.
Subeno
menjelaskan, latar belakang Pemkab Purbalingga menggejot sektor
pariwisata karena pariwisata telah mengambil peran penting dalam
pembangunan perekonomian, yang ditunjukkan dengan meningkatnya
kesejahteraan ekonomi masyarakat. Pembangunan pariwisata juga
memiliki kontribusi yang signifikan dalam pembangunan ekonomi daerah
sebagai instrumen peningkatan pendapatan daerah.
“Prospek
pariwisata strategis, pengembangannya harus digarap secara serius,
terarah, dan profesional. Pariwisata juga dapat dijadikan prime mover
atau penggerak berkembangnya sektor lain yang dapat mempengaruhi laju
pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Subeno
menambahkan, Purbalingga kini terus menggenjot pemberdayaan
masyarakat melalui desa-desa wisata. Setiap desa wisata memiliki
keunikan lokal tersendiri dan tidak saling bersaing. Pemkab juga
mendorong mereka dengan melakukan peningkatan sumberdaya manusia
melalui berbagai macam pelatihan, marketing dan dukungan dana melalui
bantuan keuangan khusus ke desa wisata.
Pemkab
tidak mengambil pendapatan satu rupiahpun dari pengembangan desa-desa
wisata, semua kembali untuk masyarakat. Perekonomian masyarakat juga
akan berputar ketika banyak wisatawan yang datang. Disisi lain,
tentunya membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat dan mengurangi
angka kemiskinan.
(Kabare Bralink/Wisata)


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !