“A city without old buildings is just like a man without memory, kota tanpa bangunan tua sama saja manusia tanpa ingatan. Manusia tanpa ingatan sama dengan orang gila, kota tanpa ingatan sama saja dengan kota gila."
Sepenggal
kalimat ini sering dilontarkan dari
mulut prof Eko Budihardjo disaat acara-acara seminar dan forum ilmiah,
kalimat itu pula yang membuat tersadar Walikota Semarang disaat kota
Semarang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan yang notabene Semarang
adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah sehingga bangunan-bangunan tua di Kota
Semarang satu persatu dihancurkan dan digantikan dengan bangunan baru sebagai
pusat kegiatan ekonomi, sampai pada akhirnya walikota Semarang mengevaluasi kembali kebijakan tersebut dan
membatalkan kebijakannya untuk menghancurkan bangunan tua di Semarang
dikarenakan bangunan tua harus dilestarikan pemkot sadar bahwa bangunan tua
memiliki rekaman sejarah yang sangat penting dan bukti sejarah yang wajib
diketahui generasi selanjutnya agar tahu bagaimana perjalanan sebuah kota itu
berkembang.
Sosok
Prof. Eko Budihardjo yang akrab dipanggil prof eko merupakan sosok sederhana ,santun dan humoris yang tak asing bagi masyarakat Jawa Tengah maupun kancah
nasional bahkan di Internasional terutama di kalangan akademisi, seni dan arsitektur. Perlu kita tahu Beliau adalah
putra daerah Purbalingga yang lahir pada tanggal 9 Juni 1944. Akan tetapi besar
di Purwokerto. Layaknya anak kecil umumnya, ia lumayan bengal. Kebandelannya
tersalurkan konon bila disuruh menggantikan ayahnya meronda. Ia bukannya mengamankan
lingkungannya, malah memalingi mangga, tebu, dan jambu di kebun tetangganya.
Iseng saja pokoknya kenyang, paparnya. Tapi pernah aksi mengambil tebu orang
dipergoki pemiliknya, dan lari dengan meninggalkan sandalnya. Besoknya sandal
itu digantung seperti bendera oleh pemilik tebu.
Di
matanya, jalan kebenaran dapat ditempuh melalui jembatan agama, ilmu, dan
kesenian. Seniman itu memiliki pemikiran yang bebas. Kalau setuju ya setuju, kalau enggak
setuju ya bilang tidak setuju. Jiwa seni mengalir dalam dirinya tanpa ia
sadari. Mulanya, semasa kanak-kanak, ia sangat menyukai hal-hal yang
bersentuhan dengan keindahan dan kesenangan. Meski prestasinya tak bagus-bagus
amat, guru SMP-nya mengakui tulisan dan gambarnya bagus. Ia disarankan gurunya
memilih arsitektur. Ia ikuti nasehat gurunya itu. Setamat SMA ia masuk ke
jurusan arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), trendsetter saat itu. Minimal
saya sudah mengikuti harapan orang tua.
(dokumentasi: tempo.com/ kabarebralink.com)
Lulus
dari Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,
tahun 1969, sebagai angkatan pertama, Eko Budihardjo nyaris tidak pernah
mendesain bangunan sendirian, sesuai dengan pendidikannya. Tarikan menjadi
seorang pengajar dan menekuni bidang perencanaan kota dan wilayah justru lebih
kuat. Dan, itulah jalan hidupnya.
Saat
beliau lulus, Universitas Diponegoro (Undip),
Universitas Udayana, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang membutuhkan dosen, beliau berpikir jika
menjadi dosen di UGM akan dibawah bayang-bayang dosen. Di Udayana, mana ada
rektornya yang bukan orang Bali. Akhirnya beliau memutuskan untuk memilih Undip. Bahkan, saat itu sebelum
prof Eko lulus sudah menjadi asisten dosen di Undip, sehingga tidak perlu
praktik lagi sebagai arsitek atau mendirikan konsultan.
Ketertarikan
prof Eko menjadi pengajar lantaran ayahnya, Tedjo Hadisumarto, adalah seorang
guru. Eko menyadari panggilan hidupnya memang menjadi pengajar. Namun, meski
tak membuka biro konsultan arsitektur, bersama dengan sejumlah koleganya ia
terlibat dalam Yayasan Arsitektur Semarang. Di yayasan ini ia masih
berkesempatan menerapkan arsitektur yang ditekuninya. salah satu karya beliau
adalah mendesain Pengadilan Tinggi Jawa Tengah, Perpustakaan Undip, dan Pusat
Kegiatan Mahasiswa Undip.
Perjalanan
hidup Eko kemudian tersedot ke arah perencanaan kota. Ia bukan lagi mendesain
bangunan, melainkan merancang tata perkotaan. Oleh karena pada era 1970-an
mulai banyak kota yang tumbuh di negeri ini. Akhirnya Eko pun memutuskan lebih
menekuni bidang perencanaan kota dengan mengambil Pasca Sarjana Planologi di
University of Wales Institute of Science and Technology, Cardiff, Inggris. Ia
menjadi lulusan pertama dari Indonesia di universitas itu untuk master of
science (MSc) bidang town planning (perencanaan kota). Peluang berkecimpung di
bidang perencanaan kota saat ia kembali ke Tanah Air tahun 1978 kian terbuka
karena setiap kota harus mempunyai perencanaan kota, master plan (rencana
induk).
Beliau berpikir bahwa sebetulnya perencanaan kota termasuk disiplin ilmu yang
relatif baru. Prof Eko menjadi bagian dari pendiri dan perintis Jurusan
Planologi di Undip. Kota kita dirancang dengan terlalu banyak orientasi pada
bidang fisik. Tata guna lahan dan jaringan jalan yang terlalu diperhatikan.
beliau berpikir bahwa ini kesalahan terbesar. Community planning tidak
diperhatikan. Padahal, dalam membangun kota semestinya manusia yang
didahulukan. Bukan hanya perencanaan di bidang fisik, melainkan memikirkan pula
perencanaan masyarakatnya (community planning) serta perencanaan ekonomi,
sosial, dan budaya kota. Selama ini, jika dalam kota tak ingin dilalui truk
besar, ya, langsung dibikin jalan lingkar. Tidak pernah ada, misalnya wawancara
dengan penduduk, mengenai apa yang mereka butuhkan. beliau merasa saat ini
ilmuwan yang menjadi konsultan perencanaan kota dinilainya terlalu elitis,
teknokratis, dan birokratis. Bahkan, tak sedikit yang orientasinya proyek
misalnya, untuk kota yang tak ada pantainya, rencana induknya ditulis pantai
harus dijaga. Acapkali rencana induk suatu kota hanya asal mencomot dari kota
lain.
(dokumentasi: suaramerdeka.com/kabarebralink)
Walaupun
demikian, Eko berkeyakinan tak ada yang terlambat. beliau berpikir bahwa Kota
itu ibarat jasad hidup. Mau jadi kurus atau gemuk, itu masih bisa. Masih bisa
dikoreksi. Sistem sisten (siapa)-nya yang penting. Sumber daya manusia jadi
kuncinya. Persoalannya, masih ada dinas tata kota yang dipimpin bukan oleh
orang perencanaan kota, melainkan dari teknik elektro, teknik mesin,
Dalam
perjalanan hidup Guru Besar UNDIP dan mantan Ketua Rektor UNDIP ini sangat
berpegang teguh pada prinsip prinsip kehidupan yang diajarkan oleh orang
tuanya. Baginya orangtua adalah teladan. Ia patuhi benar nasehat mereka. Hidup
harus sing sujud karo pangeran (harus berbakti kepada Tuhan). Sing bekti karo
wong tuwo (harus berbakti kepada orangtua). Sing rukun karo sedulur (rukun
dengan saudara). Sing asih karo sopo podo (mengasihi sesama). Dan ojo dadi wong
kang iren lan sraten (jangan jadi pengiri dan pendengki). Bila dipakai kaidah
ini hidup bakal lancar, walaupun yang menentukan akhirnya pelaksanaannya.
Di
antara karyanya yang berjumlah 22 buku itu, ada dua buku yang ia anggap paling
penting baginya yang ditulis dalam bahasa Inggris: Architectural Conservation
In Bali dan Presentation and Conservation of Cultural Heritage in Indonesia.
Kedua karya ini menjadi bacaan wajib mahasiswa S2 Arsitektur. Buku ini menjadi sebuah kebanggaan beliau
karena karyanya diapresiasi dunia arsitektur. Meski dengan prestasi menggunung
dan kesibukan setumpuk, toh ada yang membuatnya khawatir. Ia selalu memikirkan
nasib anak cucunya, dahulu kita bangga menjadi bangsa Indonesia, sekarang
sesama sebangsa saling bertarung, lantas besok bagaimana nasib kita yang secara
ekonomi ambruk, secara politis kacau balau? Dalam kegelisahan beliau masih bisa
tersenyum, sebab apa yang telah ia capai melebihi dari yang ia inginkan. Dan
anak-anaknya sudah berprestasi melampaui apa yang ia raih saat seumur mereka.
Dalam
kehidupan tidak ada yang abadi, ada pertemuan pasti ada perpisahan, kabar sedih muncul dari dunia pendidikan dan arsitektur, Prof. Eko Budihardjo sakit dan harus menginap Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi Semarang, Eko yang menjabat sebagai rektor pada periode 1998-2006 itu akhirnya tutup usia Selasa, 22 Juli 2014, sekitar pukul 21.30 WIB. Tentu hal ini menjadi kabar duka bagi
masyarakat Jawa Tengah karena tak ada lagi tulisan beliau yang selalu muncul di
surat kabar dikabar Jawa Tengah dan nasional, keramahan beliau serta puisi
segar dari pemikirannya. Beliau meninggalkan seorang istri, Sudanti
Hardjohoebojo, dan dua anaknya, yakni Arehta Aprilia dan Holy Ametati. Jasad
beliau akhirnya dimakamkan di Makam Keluarga Undip, Tembalang.
Terimakasih
Prof…. Semoga Khusnul Khotimah kami pemuda Purbalingga memiliki semangat kuat untuk mengikuti jejak langkahmu.
(DAR/
Kabare Bralink)



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !