PURBALINGGA - Bupati Purbalingga
Tasdi, SH, MM mengungkapkan jumlah penyandang difabel di Purbalingga
mencapai 7.893 orang. Penyandang difabel ini merupakan warga negara
yang juga memiliki hak untuk mendapat pelayanan yang sama dengan
warga negara lain. Pemkab berjanji akan melakukan koreksi atas
kebijakan yang belum ramah terhadap kaum difabel.
“Penyandang difabel di Purbalingga masih
lumayan tinggi. Meski mereka memiliki kekurangan, tetapi sejatinya
mereka memiliki potensi yang patut dibanggakan seperti layaknya warga
negara lain. Agar kreatifitas mereka tetap bisa berkembang, Pemkab
akan terus mendorong dan mengoreksi agenda kebijakan yang belum ramah
terhadap difabel,” kata Bupati Tasdi dalam acara silahturahmi
dengan penyandang disabilitas di Pendopo Dipokusumo, Selasa (11/4).
Dikatakan Bupati, dalam lima agenda yang
diterapkan dirinya bersama wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, pada
agenda terakhir adalah agenda sosial. Agenda ini mengajak kepada
semua pejabat, kalangan anggota DPRD agar lebih peka terhadap
kehidupan sosial.
“Dengan agenda itu, pejabat, kalangan
anggota DPRD, dan semua jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD)
dimohon lebih peka terhadap keadaan sosial masyarakat disekitar kita,
termasuk para penyandang difabel. Wujud kepekaan itu harus
diwujudkan dengan kebijakan yang diambil yang harus memperhatikan
kaum difabel. Yang belum baik dikoreksi, yang belum memiliki makna,
dikoreksi lagi agar kebijakannya menyentuh penyandang difabel,”
kata Tasdi.
Bupati mengungkapkan, selama dirinya
memimpin bersama wakil Bupati merasa belum berbuat banyak kepada
masyarakat termasuk kaum difabel. Hidup itu, kata Bupati, seperti
halnya lembaran buku, ada pengantar, ada bab I, dan hingga ada bab
penutup. Ada kelahiran, tumbuh sebagai anak, remaja, dan akhirnya ada
kematian.
“Sebelum kita mati, tentunya kita harus
berbuat baik dan melakukan silahturahmi kepada semua orang, termasuk
kepada kaum difabel. Saya mohon maaf jika sampai saat ini belum bisa
berbuat banyak untuk kaum difabel. Mohon saya diberi kesempatan,”
kata Tasdi.
Dalam kesempatan itu, Bupati mengapresiasi
atas kreativitas para penyandang difabel yang membuat aneka kerajinan
sulaman. Bupati dan wakil bupati bahkan sempat memborong sejumlah
hasil kerajinan para penyandang difabel itu.
“Saya sangat mengapresiasi atas
kreativitas penyandang difabel di Purbalingga. Mereka ternyata mampu
berkarya, bahkan diantara para penyandang difabel juga ada yang mampu
kuliah di Fakultas Hukum,” kata Bupati Tasdi.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pilar
Purbalingga, Sri Wahyuni selaku penyelenggara kegiatan mengungkapkan,
kegiatan silahturahmi merupakan ajang untuk menunjukkan kreativitas
para penyandang disabilitas dan sekaligus untuk menggali apa
sebenarnya keinginan para kaum difabel atas kebijakan yang diambil
oleh Pemkab. Yayasan Pilar mencoba merangkul semua penyandang difabel
agar bisa bersatu dan bangkit, berkreasi agar lebih berguna bagi
masyarakat.
“Kami berupaya melakukan pendampingan,
memberikan pelatihan, dan pemberdayaan agar penyandang disabiltas
dapat hidup mandiri. Paling tidak dengan pendampingan itu, harkat
dan martabat mereka bisa sama dengan warga masyarakat lain,” kata
Sri Wahyuni.
(Kabare Bralink/Dinkominfo)



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !