PURBALINGGA – Gadget
pada kehidupan zaman now menjadi kebutuhan tidak hanya orang
tua namun juga banyak digunakan oleh anak-anak dan remaja. Bahkan
telepon pintar yang memiliki banyak kemudahan menjadi pesaing orang
tua dalam membentuk karakter anak.
Hal ini disampaikan oleh Reni
Kusumowardhani, psikolog RSUD Cilacap saat memberikan paparan pada
acara Seminar Pembentukan Karakter Anak di Pendapa Dipokusumo
Purbalingga, Senin (27/11).
Menurut Reni, mereka sangat
menyukai gadget dan internet karena memiliki sifat interaktif, mudah
mencari informasi, banyak permainan game online, friendly dan tidak
akan marah ketika kita sedang jengkel, tampilannya sangat luar biasa
dan menyenangkan. Gadget dan internet sekarang menjadi sahabat yang
luar biasa bagi anak.
“Sekarang bagaimana caranya
merebut hati anak. Kita harus bisa bersaing dengan gadget. Kita juga
harus punya keistimewaan seperti gadget,” kata Reni Kusumowardhani
yang juga pakar psikolog forensik.
Menurut Reni, agar anak-anak
kita terbebas dari kecanduan gadget, maka kita, para orang tua harus
menjadi orang yang mudah didekati, harus friendly seperti gadget.
Tampilan kita juga harus menyenangkan, bahkan bila perlu orang tua
harus dapat menggambarkan sesuatu dengan bentuk cerita.
“Kita dan keluarga kita harus
penuh warna, sehingga ini bisa menggantikan gadget dan anak-anak bisa
mendengarkan kita sebagai orang tua. Tetapi kalau orang tuanya tidak
menarik, adanya cuma menuntut kewajiban tanpa tahu keingin an anak,
maka ini akan menjadi masalah,” katanya.
Dia mencontohkan, ketika anak
baru pulang dari sekolah, orang tua tidak seharusnya membombardir
anak dengan pertanyaan-pertanyaan terkait kewajiban anak untuk
mengerjakan PR, bagaimana hasil ulanganya dan lain sebagainya.
Menurut Reni, ketika anak sudah capai kemudian dibombardir dengan
pertanyaan, biasanya anak tidak akan mendengarkan.
“Akan lebih 'Mak Nyes'
bila anak disambut dengan senyum kasih sayang dan orang tua memahami
kondisi anak yang masih capai. Kemudian diajak makan bersama dengan
suasana yang penuh canda. Artinya, kita harus berkomunikasi dengan
nyaman,” jelasnya.
Dalam membentuk karakter anak,
lanjut Reni, orang tua tidak boleh menggunakan aliran kebatinan alias
selalu menduga-duga. Reni menyarankan agar orang tua langsung
berbicara dengan anak tidak saja ketika mendapati perkembangan yang
mengkhawatirkan pada anak. Karenanya, orang tua juga harus mengetahui
ilmu komunikasi yang baik.
“Jangan jadi Bu Luki atau Pak
Luki (Lu Kira Kira-red). Itu bisa jadi pangkal kehebohan dan
keributan yang akhirnya anak-anak menjadi tidak suka. Jadi jangan
pernah pakai aliran kebatinan. Langsung saja bicara, langsung saja
komunikasi,” tandasnya.
Pada intinya, kata Reni, untuk
membangun karakter anak harus diawali dari keluarga yang berkualitas.
Dimana orang tua harus memiliki waktu yang berkualitas untuk anak,
mampu membuat komunikasi sebagai jembatanya dan menjadi teladan
dengan terlebih dahulu menjadi orang tua yang berahlak mulia.
Senada dengan Reni, Bupati
Tasdi menuturkan, membangun karakter anak membutuhkan contoh
keteladanan. Menurut Tasdi, anak akan berkarakter kalau orang tuanya
berkarakter, gurunya berkarakter, masyarakat menjadi berkarakter
kalau jika para pejabatnya berkarakter.
“Jadi jangan hanya anak yang
disalahkan. Saya tidak setuju menyalahkan anak-anak kita. Tapi kita
harus mengkoreksi diri kita apakah kita sudah berkarakter,”
katanya.
Dikatakan Tasdi, karakter tidak
hanya dibentuk oleh knowledge atau pengetahuan saja. Namun juga harus
memiliki fariabel lainnya seperti skill atau keterampilan dan
attitude atau perilaku. Di fariabel attitude inilah yang masih banyak
bermasalah.
“Banyak yang pinter, banyak
yang terampil. Namun perilakunya masih perlu di tingkatkan,”
jelasnya.
Bupati meminta peserta seminar,
untuk menyerap ilmu membentuk karakter anak dengan baik sehingga
tidak hanya menjadi tambahan pengetahuan namun dapat diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pada akhirnya kita dapat
menjadi figur orang tua yang manjadi teladan anak-anak kita.
Sementara, Ketua Tim Penggerak
PKK Kabupaten Purbalingga Ny. Erni Widyawati Tasdi menuturkan
kegiatan seminar diselenggarakan sebagai salah satu upaya
meningkatkan dan kemampuan kaum ibu dalam melakukan pola asuh anak
dan remaja. Sehingga para ibu sebagai pendidik utama keluarga mampu
membentuk karakter anak yang berakhlakul karimah, tangguh dan
bertanggungjawab.
“Berbagai peristiwa kenakalan
anak dan remaja yang berkaitan dengan moral dan perilaku anak menurut
statistik menunjukan peningkatan. Ini menjadi tantangan bagi orang
tua, bagaimana membentuk karakter anak sehingga kelak menjadi
generasi yang berkarakter,” jelasnya.
Seminar diikuti 500 peserta
terdiri dari anggota TP PKK Kabupaten, TP PKK Kecamatan, desa dan
keluarahan, serta para pendidik yang merupakan wakil dari IGTKI, IGRA
dan GOPTKI se-kabupaten Purbalingga.
(Kabare Bralink/Hms)

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !